Jumat, 30 April 2021

BULETIN SEVENTEEN : HARDIKNAS 2021 : Eka Chandra "Cahaya Handayani di Batas Utara Indonesia"

 


Telah banyak sosok guru terbaik yang tertulis dalam sejarah bangsa. Namun kali ini saya berkeinginan mengungkap wajah guru yang mengabdi dengan ikhlas dan ketulusannya. Dia tidak berada pada sisi keramain kota, bukan pula pengajar setenar Kihajar Dewantara. Kisah Inspiratif ini dimulai dari provinsi paling utara di Indonesia.

Pulau Siau merupakan salah gugus wilayah kecil diperairan Laut Sulawesi. Artinya, tempat ini berbatasan dengan negara tetangga Filipina. Satu-satunya sarana transportasi ke Kota Menado hanya melalui jalur laut. Memakan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam untuk tiba di tempat Pak Eka Chandra mengajar. Itulah nama panjang dari Pak Eka. Berbincang dengan sosok pengajar muda ini telah berlangsung beberapa kali. Namun bukan saat bertandan ke Sulawesi Utara. Kami hanya bertemu saat kegiatan nasional.

Guru Inovatif ini merupakan peraih penghargaan nasional. Disamping berperstasi dalam pengembangan sekolah kesetaraan, Beliau merupakan peraih juara kedua Lomba Inovasi Guru Bidang MIPA ditahun 2018. Kinerja terbaik itu saya mengganggapnya luar biasa. Berkali-kali sebagai finalis di bidang MIPA, tidak seberuntung beliau. Walaupun tempat mengajarnya memiliki keterbatasan, tetapi baginya bukanlah penghalang. Guru yang pernah bertugas di wilayah 3T pada SMPN Satap Tapobali Nusa Tenggara Timur ini,  memiliki cara tersendiri dalam mengambangkan diri. Pemanfaatan kearifan lokal telah membuka sebuah berkah dalam hidupnya. Penelitiannya tentang hembusan angin dan ombak di pulau tempat tinggalnya telah menjadi bukti yang nyata. Kabar terkini, beliau berhasil menjadi nominasi penerima hibah penelitian nasional. Karyanya mendapat pengakuan dari SEAMEO Qitep in Science untuk berkompeteisi di tingkat lanjut. Peserta yang diikuti semua jenjang sekolah itu, Sang Guru berhasil menempati posisi ke-10. Tentunya untuk ukuran diri, posisi itu sangat luar biasa.

Bermimpilah dalam hidupmu, tetapi jangan hidup dalam mimpimu. Begitulah ungkapannya saat mendapat kesempatan dari Negara. Ini adalah hadiah yang langka. Usaha dan kerja kerasnya mulai terjawab. Menyandang Excellent Teacher merupakan bingkai keikhlasannya mengabdi. Trainning Internasional in The University of Queensland Australis adalah wujud nyatanya. Tetapi ini baru awalnya saja. Kisah pun berlanjut dengan berbagai apresiasi dari pemerintah daerah. Saya hanya bisa membayangkan jika kesempatan dan pemberian itu juga terjadi pada diri. Namun jelas, setiap orang punya cerita berbeda dalam hidup.

Dedikasi penyandang lambang Tut Wuri Handayani ini bukan hanya sebatas berbagi dengan rekan-rekannya. Ketulusannya mengajar bahkan menjadi viral. Guru Eka harus menenteng papan tulis mini masuk ke pedalaman. Tujuannya, mencari siswanya untuk berbagi ilmu dalam mengajar. Dia tidak ingin menunggu tetapi selalu menggugah. Inilah semangat yang terus teringat untuk di contoh.

Kami berdia memiliki banyak perbedaan. Akan tetapi warna itu menjadi indah untuk saling menyemangati. Seperti halnya saya, pemanfaatan teknologi dalam mengajar terus diupayakannya. Kawan ini pernah berkecil hati. Beliau tidak bisa mengikuti sayembara video pendek pembelajaran. Laptop klasiknya tidak mampu berkompetisi. Semoga pemerhati pendidikan bisa menjadi catatan buat guru penyemangat ini. Idel rasanya, semangat kerjanya bisa ditunjang fasilitas gratis pemerintah.

“Pendidikan itu seperti menyeka api yang hampir padam, olehnya itu harus senantiasa dijaga. Sehingga cahayanya terus menerangi dunia.” Itulah ungkapannya. Pernyataan itu tidak hanya manis diucapkan. Bakti kerjanya menjadi saksinya. Mengembangkan pendidikan kesetaraan di negerinya menjadi buktinya.  Guru ini selalu berinteraksi dengan insan yang hampir berputus asa untuk sekolah. PKBM Rumah Belajar Karangetang menjadi sarananya. Tidak sedikit waktu yang tersita untuk urusan ini, karena beliau bertindak sebagai ketua. Namun saya harus mencontohnya. Jalan Amalnya ini tidak berarti melupakan kebersamaan dengan keluarga. Banyak postngan di media sesoialnya yang menyangkut jiwa sosial dengan keluarga dan sahabatnya. Wah, Ini luar biasa kawan!

Dia kini terus bergerak menebar cahaya. Mengisi materi di beberapa pertemuan lokal maupun nasional. Sosoknya kian membawa berkah bagi orang lain. Guru ini beranggapan, Ketika proses belajar menjadi kebutuhan, maka hasilnya akan bermakna sehingga bermanfaat. Begitulah caranya menanamkan benih postif bagi orang lain. Ada rasa syukur yang tidak ternilai, ketika siswanya berhasil. Salah satunya pada ajang pekan kreativitas siswa di tahun yang lalu. Cahaya lainnya datang dari tulisannya. Saya sempat tersentak ketika diminta sebait testimony. Rupanya, kumpulan pernyataan kawan-kawan menjadi pemanis dalam karya bukunya. Buku itu diberi judul yang mengundang keinginan untuk membacanya. “Guru Gila” begitulah yang terpajang pada covernya. Kalian penasaran? Jangan bertanya balik. Saya pun sangat ingin membacanya.

Selamat Hari Pendidikan Pak Guru Eka, Baktimu menggugah saya untuk terus bersemangat dalam bergerak maju. Tetaplah terus mendorong kebaikan untuk Indonesia Maju. Sosok guru sepertimu bagai mencari emas di bulir padi yang menguning.


Selasa, 27 April 2021

LKS Prakarya Kelas VIII SMPN 17 Kendari - Proyek Indentifikasi Prosedur Pembuatan Lapa-lapa - Aspek Pengolahan - Suhardin

 


LEMBAR KERJA SISWA MATAPELAJARAN PRAKARYA KELAS VIII SMP/MTs

 

NAMA : ………………………..KELAS : ………..HARI/TANGGAL : ..................................

TOPIK

Pengolahan Bahan Pangan Setengah Jadi Dari Serealia,Kacang-Kacagan Dan Umbi Menjadi Makanan Khas Wilayah Setempat

TUJUAN

Mengidentifikasi Prosedur  Pembuatan Lapa-lapa Sebagai Bahan Pangan Setengah Jadi berbahan Serealia sebagai Kearifan Pangan Lokal Sulawesi Tenggara.

MATERI SINGKAT

Lapa-lapa merupakan salah satu makanan khas masyarakat Sulawesi Tenggara. Bahan utama pembuatannya adalah beras. Bisa menggunakan beberapa jenis beras. Namun pada masa lampau makanan ini dibuat dari perpaduan beras merah atau pulut dan santan. Biasanya, aroma bawang dan pandan menyatu dengan rasa garam yang menyeka hambar dalam makanan ini. Akan tetapi tambahan bahan ini hanya menjadi selera lain bagi pembuatnya. Hal itu menyebabkan banyak variasi beras dan bahan tambahan lain yang muncul saat ini.

Bentuk yang panjang mengikuti ukuran daun kepala muda pembungkusnya. Ukuran besarnya bisa disebut kagambi-gambi oleh Masyarakat Muna. Sejarah panjang telah menyatu dengan perkembangan jaman pembuatannya. Mulai dari bahan pengikat, pembungkus hingga bahan utamanya. Nasi jagung dengan pembungkus goga (kulit jagung) yang diikat dengan tali nentu menjadi bentuk lain bakul jajanan pasar di masa lampau. Kini ikatan lapa-lapa sudah semakin moderen. Pilinan nilon atau untaian kecil benang karung maupun potongan tali rafia bisa menjadi alternatif. Pohon nentu yang makin sedikit dan susah dicari serta pengolahannya yang lama menjadi penyebabnya. Bahan alam ini harus melalui proses penjemuran, pemilinan dan penggulungan yang sedikit rumit.

Pengaruh Agama Islam menjadikan lapa-lapa sebagai masakan khas menyambut Hari Raya. Namun simbol budaya belum hilang hingga saat ini. Penyajiannya bersama masakan ayam kakolo pada talang kuningan mejadi buktinya. Sajian makanan khas ini juga sering ditemui pada acara-acara resmi seperti resepsi pernikahan, syukuran maupun penyambutan tamu.

Proses pembuatan lapa-lapa dapat disimak pada https://www.youtube.com/watch?v=lxFTk7HwOjs

Bagaimana cara mengikat lapa-lapa? Simak di https://www.youtube.com/watch?v=Zc3UwuVsuBk

 

Tugas Proyek!

Lakukanlah wawancara pada ibu, keluarga di rumah maupun tetangga yang mengatahui cara pembuatan lapa-lapa. Bisa juga menonton video pembelajaran tentang pembuatan dan cara mengikat lapa-lapa dengan membuka link di atas. lalu jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat, jelas dan tepat.

1.    1. Apakah alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan lapa-lapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

2.    2. Apa saja bahan-bahan yang diperlukan?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

3.   3.  Prosedur pengolahan terdiri dari 4 tahap. Uraikan secara singkat prosedur pembuatan lapa-lapa sesuai hasil wawancara maupun tontonan video pembelajarannya. Ikuti langkah-langkah di bawah ini.

a.    Apa yang dilakukan dalam tahap perencanaan?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

b.    Uraikan langkah-langkah dalam tahap pembuatan lapa-lapa dengan tepat!

Tuliskan hasil wawancara atau pengamatanmu secara berurutan.

1.    ………………………………………………………………………………………….

2.    ……………………………………………………………………………………….....

3.    ……………………………………………………………………………………………

4.    Dst……

c.    Bacalah wacana di atas. Bagaimana cara menyajikan lapa-lapa?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

d.    Bagaimana mengevaluasi atau cara mengetahui hasil pembuatan yang dilakukan sudah sesuai harapan?

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

            Buatlah kesimpulan pembelajaranmu hari ini

            …………………………………………………………………………………………………

 

 

 

 

https://www.facebook.com/suhardin.suhardin.90

https://suhardin73.blogspot.com/

https://www.youtube.com/channel/UCAOLu5GRpnAtJSN6ZoPlmRw/featured

 

 

 

Senin, 26 April 2021

BULETIN SEVENTEEN : Testimoni Pembelajaran Prakarya - Perkedel Kentang Kornet ( Oleh : Ramadhan Mias Mulia - Kelas VIII.3 SMPN 17 Kendari)

Hari kesembilan puasa, ibuku menyiapkan makan malam. Hal ini disebabkan orang rumah keseringan makan berat setelah berbuka puasa. Sajiannnya menarik perhatian. Aku mengamati bentuk dan aromanya sangat menggugah selera. Tetapi harus bersabar, hingga waktu berbuka tiba.

Ketika selesai berbuka puasa, kami langsung makan malam. Rupanya ibu membuat perkedel kentang kornet. Penyajiannya bersama nasi dan lauk lainnya. Nah dari rasanya itu enak banget, gurih, dan membuatku merasa ingin menyantapnya. Ibu pun menjelaskan tentang bahan yang dibutuhkan untuk membuatnya. Membutuhkan 500 gram kentang goreng untuk satu kornet berukuran kecil. Agar rasa dan aromanya menggugah selera makan, dibutuhkan pula tiga batang daun bawang yang diris halus dan dua kuning telur. kaldu penyedap. Tambahan lain sesuai selera adalah kaldu sapi, pala bubuk dan garam. Ibuku juga menambahkan dua sendok makan bawang putih goreng dan satu setengah sendok makan bawang goreng.

Membuat perkedel kentang kornet terlebih dahulu menghaluskan kentangnya. Bahan ini harus digoreng terlebih dahulu. Menghaluskannya dalam keadaan panas. Setelah itu, menyiapkan wadah untuk mencapurkan kentang halus, kornet, bumbu halus, kuning telur, lada bubuk, pala, garam, dan daun bawang. Aduk hingga terlihat merata. Sediakan cetakan sesuai yang diinginkan. Buat perkedel pada cetakan tersebut. Balurkan pada adukan telur kemudian goreng hingga terlihat matang. Angkat lalu tiriskan perkedel goreng sebelum disajikan. Begitulah ibuku menjelaskan pembuatannya.

Makanan ini cocok untuk santapan di bulan puasa. Banyak manfaat mengkonsi kentang bagi tubuh kita. Bahan pangan ini dapat berfungsi mempertahankan berat badan menjadi ideal. Rasa kenyang akan diperoleh saat mengkonsumsinya. Bahan makanan kentang  dapat menggantikan nasi. Hal ini menyebabkan seseorang dapat mengontrol  gula darahnya. Melalui bahan bacaan aku mendapatkan informasi bahwa kentang juga dapat menjaga kesehatan kulit. Kentang ini rupanya bukan hanya mengandung karbohidrat saja. Bahan pangan ini merupakan jenis bahan makanan berserat, memiliki protein, antioksidan, vitamin serta mineral.

Saat berpuasa di bulan suci Ramadhan ini,  aku menyarankan untuk terus menjaga daya tahan tubuh. Salah satunya dengan mengkonsumsi kentang melalui pembuatan bahan makanan pengganti nasi. Disamping berat badan tetap terjaga, juga agar dapat  tetap terlihat sehat dan bugar. Sangat penting menjaga makanan yang masuk dalam tubuh, agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar.

LKS Praktikum Frekwensi Pernapasan pada Manusia (IPA Kelas VIII Semester 2 SMPN 17 Kendari)

 

Suratmin/suhardin/ Lembar kerja Daring/BDR/2021/SMPN 17 Kendari



Lembar Kerja Siswa : Frekwensi Pernapasan Manusia

Nama   ..............................................kelas ........................Hari/Tanggal : Selasa, 27 April 2021

EKSPERIMEN PERTAMA

Judul                Menyelidiki proses pernapasan manusia

Tujuan :           Mengidentifikasi Jumlah kerapatan (frekwensi) pernapasan seseorang.



Materi singkat.

Setiap manusia bisa memiliki perbedaan jumlah menghirup dan mengeluarkan udara dalam setiap satuan waktu. Hitungan tersebut dikenal dengan istilah frekwensi pernapasan. Banyak factor yang menyebabkan perbedaan tersebut.

Perbedaan usia bisa mempengaruhunya. Jumlah energy yang banyak dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak dalam masa pertumbuhannya. Hal tersebut menyebabkan frekwensi pernapasannya lebih banyak/cepat disbanding orang dewasa.

Orang yang sedang beraktifitas tinggi memiliki frekwensi pernapasan yang lebih cepat bila dibandingkan saat istirahatnya. Misalnya orang berlari dan yang duduk santai di taman. Itulah sebabnya aktivitas seseorang mempengaruhi jumlah maupun kecepatan pernapasan yang dilakukan.

Frekwensi pernapasan laki-laki lebih tinggi dibanding parempuan. Ukuran volume paru-paru menjadi penyebab terjadinya perbedaan ini. Oleh karena itu jenis kelamin juga menentukan jumlah pernapasan seseorang dalam satuan waktu terterntu.

Respon terhadap dunia luar juga mempengaruhi pernapasan seseorang. Jika suhu dingin, seseorang akan bernapas lebih cepat. Hal ini untuk membantu proses pembangkaran dalam tumbuh untuk membuatnya lebih hangat.

Apakah posisi tubuh juga turut mempengaruhinya? Coba kalian bandingkan frekwensi pernapasan saat duduk, berbaring dan berdiri. Apakah ada perbedaan yang menyolok? Untuk mengetahui semua factor tersebut diatas, perhatikanlah data berikut.

 

Apa yang harus kamu lakukan?

1.     Bernapaslah secara normal atau seperti biasa dan hitung berapa jumlah napasmu selama 1 menit. Satu kali bernapas dapat diartikan dengan sekali menghirup udara dan sekali mengembuskan udara. Jumlah kekerapan (frekuensi) pernapasan adalah jumlah bernapas dalam satuan waktu tertentu.

2.      Ulangi langkah 1 sebanyak tiga kali, kemudian carilah rerata frekuensi pernapasanmu.

3.      Melakukan langkah 1 dan 2 kemudian catat hasilnya pada Tabel. Bandingkan rerata frekuensi dua orang lainnya pada tabel

Nama

L/P

Ulangan

Frekwensi Pernapasan selama 1 menit

Rata-rata frekwensi pernapasan dalam 1 menit

(tulis namamu)

 

1

 

 

2

 

3

 

La Ode Saluman R

L

1

22

Rata-rata = 22+30+31/3 = 28 kali

2

30

3

31

Wa Ode Hasanah

P

1

20

 

2

30

3

25

 

Apa yang perlu kamu diskusikan?

1. Organ apa saja yang berperan dalam sistem pernapasan?

2. Berdasarkan rerata frekuensi pernapasan selama 1 menit, hitunglah frekuensi pernapasanmu sehari!

3. Apakah rerata frekuensi pernapasanmu dan temanmu berbeda?

4. Menurutmu mengapa rerata frekuensi pernapasanmu berbeda dengan temanmu?


Apa yang dapat kamu simpulkan?

Berdasarkan hasil percobaan dan diskusi yang telah dilakukan, apa saja yang dapat kamu simpulkan?


Suratmin/suhardin/ Lembar kerja Daring/BDR/2021/SMPN 17 Kendari

Minggu, 25 April 2021

BULETIN SEVENTEEN : Testimoni Pembelajaran Prakarya - BEROBOK KENANGAN (Oleh Cici Rahayu Rahmadani Kelas VIII.2)

 

Bulan Ramadhan tahun lalu, keluargaku menjalani bulan puasa bersama nenek tercinta. Dia selalu mengajariku berbagai masakan, terutama menu favoritku. Berobok adalah makanan kesukaanku.

Masakan ini adalah makanan khas Masyarakat Bugis. Menu kesukaanku ini berbahan dasar jagung manis. Bahan tanbahannya berupa daging ayam, kol, wortel, daun bawang, daun sup dan mie instan. Bumbu-bumbunya pun sangat mudah di dapat. Membuatnya cukup dengan garam, masako, minyak, bawang merah, bawang putih dan lada. Kalian bisa di menambahkan buah tomat jika disukai.

Alat yang di gunakan untuk memasak beragam. Namun nenekku menggunakan panci, sendok sayur, kompor, pisau, sutil, cobe/blender, sendok, talenan pemotong, piring dan wajan. Alat ini dapat menyesuaikan ukuran maupun bentuknya. Semuanya di gunakan untuk mengolah, menumis maupun memasak.

Cara membuatnya pun mudah. Pertama-tama membersihkan semua bahan. Cucilah dengan air hingga bersih. Kemudian  potong  ayam dengan ukuran kecil. lalu rebus hingga lunak. Sementara menunggu daging ayam lunak, siapkan bahan dasarnya untuk diolah. Jagung dipisahkan biji dari tongkolnya. Caranya, iris biji jagung hingga tak tersisa dari tongkolnya. Wortel dipotong berbentuk dadu dengan ukuran yang keci- kecil. Sayur kol, daun bawang dan daun sup kita iris juga. Jangan lupa untuk menghaluskan semua bahan bumbu. Caranya, bawang merah, bawang putih, lada dibelender atau ditumbuk. Kemudian tumis dengan sedikit minyak.

Setelah daging ayam lunak maka masukan irisan jagung tadi. Agar sedikit matang, tunggu sekitar lima  menit. Masukan pula  potongan wortel dan irisan sayuran tadi setelah setengah masak. Langkah berikutnya, masukan bumbu yang di tumis tadi. Aduk hingga bumbu merata. Jika sudah terlihat merata, masukkan garam dan masako sesuai selera. Jangan lupa matikan kompor. Kemudian remas mie instan dan masukkan kedalam masakan tersebut tanpa bumbu kemasannya. Tutup panci yang berisi masakan tersebut. Tunggulah sekitar dua menit. Kini berobok siap di sajikan. Nenekku mengatakan, Jika ingin pedas atau manis bisa ditambahkan kecap atau cabe.

Namun sayang,  kini nenekku telah pergi meninggalkan kami semua. Tahun ini kami sekeluarga tak bisa merasakan berobok buatan nenek tercinta. Berobok buatannya selalu menjadi kenangan. Walaupun beliau tak ada lagi, aku sangat berterima kasih kepadanya. Dia telah mengajarkan membuat makanan kesukaanku. Terima kasih nenek, jasa dan kasih sayangmu menjadi kenang yang susah terlupakan dihati. Doa terbaik untukmu, Nek.


Testimoni Pembelajaran Prakarya - BEROBOK KENANGAN (Oleh Cici Rahayu Rahmadani Kelas VIII.2) - SMPN 17 Kendari/Prakarya Kelas VIII/Semester II -2021/Suhardin

BULETIN SEVENTEEN : Testimoni Pembelajaran Prakarya - Membuat Sanggara Bandang Bersama Ibu (Oleh Neisya Istiqamah-VIII.3)

 Siang tadi aku bertanya ke ibu.

"Hari ini bikin makanan berbuka apa?"

"Rencanannya, ibu akan membuat sanggara bandang."

"Bagaimana cara membuatnya bu?"

"Nanti kamu akan tau juga. Ayo bantu ibu membeli bahan-bahannya!"

"Baik bu."

Beberapa saat kemudian kami keluar rumah. Tujuannya menuju pasar rakyat yang tidak jauh dari rumah. Banyak pertanyaan yang terlintas dipikiranku. Namun diam dan terus mengamati adalah sikap yang dipilih. Rupanya, ibu cukup banyak membeli bahan-bahannya. Pertama dia menanyakan harga ubi kayu atau biasa disebut singkong. Setelah membelinya, ibuku mulai meminta pandan pasta yang berwarna hujau pada seorang penjual. Sebotol rasanya cukup, ungkapnya padaku. Selanjutnya kami membeli pisang raja, parutan kelapa dan gula pasir. Akibat tempatnya yang berbeda, kami pun mengelilingi pasar itu. Setibanya di rumah ibu mengambil parut. Aku pun sangat penasaran dengan alat itu.

"Untuk apa parut itu, bu?"

"Kok bertanya, Apakah kamu tidak tau fungsi alat ini?"

“Bukan begitu bu. Aku hanya bingung. Kelapa kan, sudah diparut? Lantas…”

“Sini bantu ibu, parut ubi ini.”

"Ibu? Aku kan takut. Tanganku bisa terluka."

“Makannya harus berhati-hati. Ayo belajar memarut yang benar!”

       Ibu akhirnya mengajarkan memarut ubi kayu itu sampai agak halus dan hancur. Setelah  itu, ibu menambahkan pandan pasta dan garam sedikit. Akupun membantu mengaduknya hingga berwarna hijau secara merata. Ibu pun menyuruh untuk mengupas pisang raja lalu membelahnya menjadi dua bagian. Selagi saya mengupas pisang, ibu mendidihkan air di dalam dandang.

“Kini waktunya untuk mencetak.” Kata Ibu.

Ibu mengambil sedikit adonan ubi kayu parut tadi lalu menpipihkannya. Rupanya bahan ini menjadi pembungkus. Dia meminta sepotong pisang sudah di belah kemudian meletakkannya di tengah adonan. Penghilatan terus mengamati gerakan tangan ibuku. Rupanya potongan pisang tadi  dibalutnya, hingga permukaan pisang tertutupi oleh adonan. Kini tinggal memasukannya ke dalam dandang yang sudah panas untuk di kukus.

Sambil menunggu matang, ibu mencampurkan parutan kelapa dengan gula pasir. Bulatan lonjong pisang dan adonan parutan ubi kayu dibalut lagi dengan parutan kelapa yang sudah di campur dengan gula pasir. Wah, akhirnya sanggara bandang telah jadi. Hidangan ini telah siap disantap saat  berbuka puasa nanti.

       Terima kasih Ibu, telah mengajariku memanfaatkan umbi dalam membuat makanan. Aku pun kini tahu cara membuat sanggara bandang. Ibu dan aku sangat senang bisa membuat masakan buka puasa bersama hari ini.

Testimoni Pembelajaran Prakarya - Membuat Sanggara Bandang Bersama Ibu (Oleh Neisya Istiqamah-VIII.3)-Aspek Pengolahan Kelas VIII/Semester II/SMPN 17 Kendari-Suhardin.

Rabu, 21 April 2021

Tatap Muka di Pesantren Kilat Ramadhan 2021 (Suhardin-SMPN 17 Kendari)

 



Sumber Foto : Bastin Rey


Sudah sepuluh bulan siswa bertemu dalam jaringan. Bulan April 2021 menjadi berkah bagi mereka. Bukan hanya karena suasana puasa di bulan Ramadhan tetapi ada kesempatan untuk sesaat bertatap muka. Penurunan jumlah paparan virus Corona yang tajam serta beralihnya zona penanganan menjadi lebih baik menjadi alasannya. Momen pesantren Ramadhan merupakan wadah kegiatan tatap muka. Tentu dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Pihak sekolah memberikan kepercayaan untuk menjadi narasumber dalam kegiatan tahunan kesiswaan ini. Ini merupakan kesempatan berharga untuk mengenali mereka lebih dekat. Bimbingan rohani islamiah ini berlangsung selama tiga hari. Walaupun singkat, waktu ini sangat berharga. Tentunya untuk mengenal lebih dekat para siswa. Tampil dihari kedua (20/4) bukan tanpa beban karena materinya tanpa tema. Selembar jadwal yang dipegang hanya bertuliskan simulasi. Waktunya pun menjelang salat zuhur. Saya akhirnya memilih aktualisasi kehidupan bernegara melalui nilai-nilai ajaran islam.

Kotak merah kecil dan guntingan kertas kecil menjadi media permainan saat itu. saya pun dibantu oleh seorang guru dalam memberikan materi. Keberanian berbicara, ,mengungkapkan pikiran serta penanaman nilai religi menjadi tujuan permainan yang dilakukan. Nyanyian salawat, tawa, penampilan siswa, sedikit diskusi dan penguatan diberikan selama hampir satu jam. Ruang Musolah SMPN 17 Kendari pun terlihat berbeda. Jika materi sebelumnya duduk sehadapan, kali ini mereka saling berhadapan. Perasaan malu dan tidak percaya diri memang terlihat pada beberapa siswa. Inilah pelajaran lain yang diberikan. Pengusaan diri saat tampil di depan umum menjadi ajakan positifnya. Sesekali intermeso dilontarkan agar ketegangan menjadi luluh.

Pesantren kilat tahun ini memliki makna berbagi. Guru, staf maupun siswa menyiapkan bingkisan kecil untuk kaum yang tidak mampu. Rasa peduli itu juga ditunjukkan melalui rencana berbagi buka puasa yang akan dilaksanakan setelah kegiatan ini selesai. Penutupan kegiatan diakhiri dengan acara berbuka puasa bersama.




Senin, 19 April 2021

BULETIN SEVENTEEN : CERITAKU - Kabuto Manis Kelapa Muda Ala Ibuku (Makanan Khas Muna-Buton Sulawesi Tenggara)



Cerita Karangan : Suhardin

 

Ajakan ibuku membuat bingung siang itu. Perempuan setengah baya yang aku sayangi, menyebut istilah yang jarang terdengar.

“Hari ini kita akan membuat kabuto. Apakah kamu suka?” Kata Ibu.

“Kabuto?” Tanyaku heran.

“Iya, ayo ikut ibu ke pasar!”

Sepanjang Jalan aku terus bertanya dalam hati. Apakah makanan ini berasal dari jepang? Alasannya, namanya mirip dengan Naruto. Tokoh kartun kesukaanku.

Keherananku bertambah lagi. Ibuku membeli ubi yang telah berjamur. Tanpa berpikir panjang, setelah masuk ke dapur aku mulai bertanya banyak hal.

“Koku bi rusak, ibu beli?”

“Ini bukan ubi rusak, nak.”

Penjelasan ibu Akhirnya mencerahkan pikiranku. Membuat kabuto, ubinya harus dikupas terlebih dahulu lalu direndam beberapa hari. Bila jamur mulai tumbuh pada umbinya, kemudian dijemur hingga kering. Itulah mengapa ubi ini terlihat berjamur. Sebelum diolah, ubinya harus dicuci. Bila perlu direndam dengan air garam secukupnya. Hal ini sesuai selera bagi penikmatnya. Cara memasaknya dengan melalui proses pengkusan. Tentu butuh dandan dan air agar ubi menjadi masak. Jika ingin lebih cepat dicerna, ubinya dapat dipotong menjadi kecil-kecil. Bahkan bisa dibuat seperti bentuk bulir nasi.

Biasanya makanan ini jika matang, disajikan dengan kelapa parut yang masih muda. Agar lebih nikmat, ibuku menambahan cairan kental gula merah. Hanya butuh sebelah kelapa muda parut untuk membuat satu kilogram ubi jamur. Sedangkan seperdua gula merah panaskan dengan wajan dan tambahkan sedikit air. Cairan gula ini digunakan sebagai pemanis kabuto.

Wah! Buka puasaku hari ini sangat unik. Menikmati makanan khas Sulawesi Tenggara berbahan ubi kayu. Akupun sangat senang bisa mengetahui cara membuatnya. Ibuku berkata, makanan pokok itu bukan hanya beras. Umbi tanaman bisa menggantikannya. Ayahku sangat senang sekali menikmati kabuto buatan ibu. Ayahku berpesan pada ibu, agar besok membuat makanan lain yang lebih murah meriah.

 

LKS PROYEK PENGOLAHAN MAKANAN BERBAHAN SEREALIA, UMBI DAN KACANG-KACANGAN (PRAKARYA KELAS VIII SMP/MTs K13 - SMPN 17 KENDARI - SUHARDIN)

 


NAMA : ……………………………KELAS : …………HARI/TANGGAL : Jumat, 23 April 2021

 

Topik : Proyek Pengolahan Makanan Bersama Keluarga

Tujuan : Membuat testimony sederhana tentang pemanfaatan bahan pangan setengah jadi dari serealia, kacang-kacangan dan umbi menjadi makanan khas wilayah setempat.

 

Materi Singkat

Pemanfaatan bahan pangan setengah jadi dari serealia, kacang-kacangan dan umbi menjadi makanan khas memiliki banyak variasi. Apalagi dalam suasana Bulan Ramadhan.

1.    Serealia merupakan tanaman yang termasuk dalam family rumput-rumputan (Poaceae). Tumbuhan ini memiliki bulir yang dijadikan pahan pangan manusia. Contoh yang paling populer bagi masyarakat Sulawesi Tenggara adalah padi dan jagung. Namun tanaman serealia lainnya berupa gamdum, sorghum, barley, jail dan oats. Jenis makanan khas Sulawesi Tenggara dari bahan pangan ini adalah kambuse, kaposu nosu, kambewe gola, susuru, kue palu, karasi, dokodoko tepung beras, baruasa, lapa-lapa, kalo-kalo, onde-onde dan waje.

2.    Kacang-kacangan memliki banyak bentuk, diantaranya kacang tanah, kacang panjang, kedelai dan kacang hijau. Jenis lainnya yang biasa digunakan sebahai bahan pangan adalah mete dan kenari. Tanaman suku Fabaceae ini umumnya memliki ciri yang khas berupa polong, sehingga disebut tanaman polong-polongan. Kue-kue yang berbahan dasar kacang ini banyak ditemui sebagai makanan cemilan. Kacang goreng di Sulawesi Tenggara biasa menyebutnya Langkosenga.  Adalagi makanan halua kanari, tenteng, keripik mete, kue kacang serta bolu/brownis mete dan kacang.

3.    Umbi merupakan organ tanaman yang mengalami perubahan bentuk sehingga menyimpan cadangan makanan berupa pati. Tanaman berumbi ini dapat berupa umbi akar maupun batang. Jenis pati yang terdapat pada umbi ini juga bervariasi. Penghasil pati dalam umbu dapat ditemui pada kentang, wortel, singkong/ubi kayu, ubi jalar, talas, keladi maupun sagu. Beberapa jenis makanan khas yang dikenal masyarakat Sulawesi Tenggara berbahan umbi ini diantaranya, sinonggi, sako-sako, korket ubi jalar, kasoami, tuli-tuli, kolak ubi kayu/jalar, epu-epu dan kabuto. Makanan lain yang bersifat umum yakni ubi rebus, ubi goreng, panada umbi, onde-onde ubi jalar ungu dan keripik ubi.

 

 

Uraian Proyek (Nilai Keterampilan Pembelajaran Daring di Masa Pendemi Covid-19)

 

-       Lakukanlah pengamatan atau wawancara sederhana. Ajaklah ibu, bibi, kakak, ayah, adik atau keluarga lainnya. Coba amati atau diskusikan tentang makanan berbuka puasa (bagi agama Islam) atau makanan yang pernah dibuat sehari-hari (bagi siswa beragama non Islam) dengan berbahan pangan setengah jadi dari serealia, kacang-kacangan dan umbi.

-       Catatlah nama makanannya, alat dan bahan yang digunakan, komposisi/ukuran bahan pangannya dan cara membuatnya.

-       Tuliskanlah pula kesan positif saat kamu bersama keluarga dalam membuat testimony ini. Tanyakan perasaan orang terdekatmu itu lalu cantumkan di bawah tulisanmu.

-       Buatlah sebuah cerita dalam beberapa paragraph sehingga menjadi bacaan yang menarik.

 

Contoh ceritanya:

 

Kabuto Manis Kelapa Muda Ala Ibuku

Cerita : Suhardin

 

Ajakan ibuku membuat bingung siang itu. Perempuan setengah baya yang aku sayangi, menyebut istilah yang jarang terdengar.

“Hari ini kita akan membuat kabuto. Apakah kamu suka?” Kata Ibu.

“Kabuto?” Tanyaku heran.

“Iya, ayo ikut ibu ke pasar!”

Sepanjang Jalan aku terus bertanya dalam hati. Apakah makanan ini berasal dari jepang? Alasannya, namanya mirip dengan Naruto. Tokoh kartun kesukaanku.

Keherananku bertambah lagi. Ibuku membeli ubi yang telah berjamur. Tanpa berpikir panjang, setelah masuk ke dapur aku mulai bertanya banyak hal.

“Koku bi rusak, ibu beli?”

“Ini bukan ubi rusak, nak.”

Penjelasan ibu Akhirnya mencerahkan pikiranku. Membuat kabuto, ubinya harus dikupas terlebih dahulu lalu direndam beberapa hari. Bila jamur mulai tumbuh pada umbinya, kemudian dijemur hingga kering. Itulah mengapa ubi ini terlihat berjamur. Sebelum diolah, ubinya harus dicuci. Bila perlu direndam dengan air garam secukupnya. Hal ini sesuai selera bagi penikmatnya. Cara memasaknya dengan melalui proses pengkusan. Tentu butuh dandan dan air agar ubi menjadi masak. Jika ingin lebih cepat dicerna, ubinya dapat dipotong menjadi kecil-kecil. Bahkan bisa dibuat seperti bentuk bulir nasi.

Biasanya makanan ini jika matang, disajikan dengan kelapa parut yang masih muda. Agar lebih nikmat, ibuku menambahan cairan kental gula merah. Hanya butuh sebelah kelapa muda parut untuk membuat satu kilogram ubi jamur. Sedangkan seperdua gula merah panaskan dengan wajan dan tambahkan sedikit air. Cairan gula ini digunakan sebagai pemanis kabuto.

Wah! Buka puasaku hari ini sangat unik. Menikmati makanan khas Sulawesi Tenggara berbahan ubi kayu. Akupun sangat senang bisa mengetahui cara membuatnya. Ibuku berkata, makanan pokok itu bukan hanya beras. Umbi tanaman bisa menggantikannya. Ayahku sangat senang sekali menikmati kabuto buatan ibu. Ayahku berpesan pada ibu, agar besok membuat makanan lain yang lebih murah meriah.

 

 

Ayo, buat ceritamu! Lalu kirim Ke WhatsApp Group kelas.

 

 

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...