Senin, 31 Oktober 2022

POSTER PEMBELAJARAN : SEL SYARAF PADA MANUSIA

 



Link Video Vodeo Pembelajaran : Sel Syaraf pada Manusia

Link Bahan Ajar : Bahan Ajar Sel Syaraf pada Manusia

Link Poster Pembelajaran :  Bagian- Bagian sel neuron pada manusia

Link Poster Pembelajaran : Poster Jenis dan bagan alur jalannya sinyal Sel Syaraf




BAHAN AJAR : SEL SYARAF PADA MANUSIA

 


Link Video Vodeo Pembelajaran : Sel Syaraf pada Manusia

Link Bahan Ajar : Bahan Ajar Sel Syaraf pada Manusia

Link Poster Pembelajaran :  Bagian- Bagian sel neuron pada manusia

Link Poster Pembelajaran : Poster Jenis dan bagan alur jalannya sinyal Sel Syaraf



SEL SYARAF PADA MANUSIA

Apakah pernah kalian pernah merasakan hal-hal seperti ini?  Sakit perut, dikagetkan oleh seseorang, gatal dikulit, rasa pedas saat makan atau merasakan dingin. Sebenarnya ini adalah respon tubuh terhadap diri terhadap lingkungan. Bagaimana saat kalian memecahkan balon yang besar dengan menggunakan benda tajam? Apakah kalian kaget? Coba bayangkan, Kalian sedang menonton film horor lalu tiba-tiba suasana menyeramkan muncul dengan cepat dan tiba-tiba. Apa yang terjadi pada tubuhmu? Itulah yang kenal sebagai sinyal dari lingkungan. Sebenarnya hal tersebut merupakan peristiwa listrik dalam tubuh kita. Sinyal itu akan dihantarkan oleh sel yang disebut neuron atau sel saraf. Bagaimana struktur dari sel syaraf atau neuron pada manusia?

 

Terdapat beberapa bagian yang sangat penting dalam menyampaikan sinyal atau impuls syaraf pada neuron.

1.    Dendrit. Berfungsi menghantarkan rangsangan dari badan sel ke arah luar (ujung saraf lain).

2.    Nukleus. Berperan mengatur seluruh aktivitas sel saraf itu sendiri.

3.    Sitoplasma.  Merupakan cairan sel sebagai tempat organel sel serta penghubung kebagian luar.  

4.    Sel Sechwan. Berupa Lemak sebagai pembungkus akson dari produksi mielin.

5.    Nodus ranvier. Bagian ini terdapat atau melekat pada akson. Nodus renvier tidak terbungkus oleh mielin. Berfungsi mempercepat hantaran impuls. Sinyal syaraf akan meloncat dari satu ke yang lain dengan cepat.

6.    Selubung mielin. Berperan untuk membungkus dan melindungi akson. Itulah mengapa banyaknya informasi dapat diterima untuk disampaikan ke pusat saraf (otak maupun sumsum tulang belakang)

7.    Akson. Merupakan hantaran yang Panjang, berfungsi sebagai penghantar impuls dari sel saraf yang lain untuk selanjutnya ke pusat saraf (otak atau sumsum tulang belakang).

8.    Ujung akson. Bagain berfungsi membentuk sinapsis dan menghantarkan impuls ke sel saraf yang lain.

9.    Sinapsis. Berperan sebagai tempat terjadinya transfer atau perpindahan sinyal saraf dari sel satu ke sel yang lainnya. 

 

Bagaimana urutannya jalannya sinyal saraf kepada neuron? Coba kalian ingat kembali hal-hal yang telah dibaca diatas. Ayo mencoba untuk mengurutkannya! Pertama dendrit kemudian dilanjutkan ke badan sel. Bagian ini terdiri dari inti sel dan sitoplasma. Selanjutnya sinyal itu akan diteruskan ke akson. Bagian ini terdiri dari nodus ranvier dan selubung mielin. Informasi tersebut akan dilanjutkan ke ujung akson. Pada akhirnya kemudian diteruskan ke dendrit sel saraf yang lain. Begitulah rangkaian urutannya yang dimulai dari denderit  hingga tiba pada dendrit berikutnya di sel saraf yang lain. 





Terdapat tiga jenis sesuai dengan fungsinya yakni :

1.      Neuron sensorik yaitu neuron yang terdapat pada panca indera atau reseptor. Berfungsi meneruskan sinyal saraf atau rangsangan ke pusat saraf (otak dan sumsum tulang belakang)

2.      Neuron ajuktor/transmitter. Berfungsi menghubungkan antara neuron sensorik dan motorik.

3.      Neuron motorik. yang menghantarkan sinyal atau rangsangan dari pusat saraf (otak dan sumsum tulang belakang) menuju ke otot atau efektor sehingga terjadilah sebuah gerakan.



Bagaimana jalannya sinyal saraf yang berupa sinyal listrik tersebut dari luar ke dalam tubuh sehingga keluar menjadi sebuah Gerakan? Perhatikanlah gambar berikut. 



Kerja sel syaraf dimulai dari adanya rangsangan dari luar tubuh kita. Rangsangan ini dapat berupa  cahaya, gas atau udara, bunyi atau gelombang, larutan, tekanan, sentuhan. Rangsangan yang merupakan sinyal ini akan ditangkap oleh afektor berupa panca indra kita (mata, hidung, telinga lidah dan kulit).  Setiap panca indra memiliki neuron sensorik yang khas. Sel-sel pada mata tentu akan berbeda fungsinya dengan organ pendengaran (telinga). Begitu pula dengan sel penyusun organ indra yang lainnya. Sinyal syaraf selanjutnya akan diteruskan menuju syaraf pusat melalui neuron adjustor atau transmitter. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, syaraf pusat ini terdiri dari  otak dan sum-sum tulang belakang. Sum-sum tulang belakang ini berfungsi dalam menunjang gerak refleks.

 

Sinyal dari otak yang telah diartikan akan diantar kembali oleh neuron adjustor. Informasi tersebut akan diteruskan ke neuron motorik. Sinyal tersebut akan diantar ke efektor pada tubuh kita. Bagian ini merupakan otot-otot yang ada pada tubuh. Otot-otot disetiap organ ini akan melakukan aksi. Setiap gerakan bisa membaca perintah dari pusat syaraf.  Contohnya misalnya mendengar, kaget, rasa sakit, merasa dingin atau juga hal-hal lain yang diterima oleh tubuh sebagai respon dari lingkungan.

 

Suhardin-SMPN 17 Kendari


Rabu, 19 Oktober 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MDOUL 3.1 GURU PENGGERAK ANGKATAN 5

 


Suhardin - SMPN 17 KENDARI  - CGP Angkatan 5 Tahun 2022 Kota Kendari

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?


Kegiatan demosntrasi kontekstual modul 3.1 dilakukan pada dua sekolah yang berbeda yakni SMPN 17 Kendari dan SMP Kartika XX-6 Kendari. Walaupun kedua sekolah ini berbeda status namun Kepala Sekolahnya memberikan tanggapan yang sama menyangkut hal yang berhubungan dengan patrap triloka Ki Hajar Dewantara. Wawancara ini difokuskan pada penanganan kasus dilema etika di lingkungan sekolah. Kedua narasumber mengungkapkan tentang pentingnya keteladanan sebagai salah satu faktor pendukung pengambilan keputusan.

Kata teladan ini sesuai dengan semboyan Ing ngarso sung tuladha pada filosofi Ki Hajar Dewantara. Banyak hal yang diutarakan tentang kasus penanganan kedisplinan siswa. Keduanya pun seirama bahwa membuat keputusan yang berpusat pada murid selalu tetap menjaga semangat siswa untuk terus mau belajar dan menuntut ilmu. Apakah anak ini karena pelanggaran berat yang dilakukannya, dapat dikeluarkan atau tidak dari sekolah?

Jawabannya harus mempertimbangkan masa depan anak, semangat bersekolah dan keberlangsungan pendidikannya. Pemberian motivasi ini sesuai ungkapan ing madya mangun karsa dalam filosofi Ki Hajar Dewantara. Saat penanganan kasus dilema etika, kedua sekolah melakukan penanganan berjenjang dan memiliki tim kerja. Sebagai manajer, kedua kepala sekolah mengungkapkan bahwa prosedur yang diambil atas kesepakatan kolaborasi yang saling mendukung untuk kebaikan. Tentunya hal ini sesuai dengan istilah tut wuri handayani pada filosofi Ki Hajar Dewantara.

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Seorang pendidik senantiasa memiliki nilai-nilai keteladanan bagi siswanya. Nilai-nilai universal sebagai nilai-nilai kebajikan ini dapat berpengaruh pada prinsip pengambilan keputusan suatu kasus dilema etika. Nilai-nilai kebajikan universal ini bisa berupa tanggung jawab, keadilan, kasih sayang, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, rajin, komitmen, kesabaran atau percaya diri dan masih banyak lagi yang bisa tumbuh dan berkembang pada diri seseorang. Karakter postif inilah yang akan menumbuhkan empati dan pemahaman situasi saat terjadi kasus pada siswa. Menjadi penyeimbang untuk memilih antara dua pilihan yang kedua pilihan secara moral adalah benar tetapi mengandung bertentangan. 

 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya


Pengambilan keputusan berbasis coaching dapat mengarahkan kebijakan yang bersifat etis dan bijaksana. Pengujian dalam memutuskan kasus khususnya yang berkaitan dengan dilema etika ataupun bujukan moral dapat mengacu pada sembilan langkah yakni:

1.    Mampu mengenali adanya nilai-nilai yang bertentangan dalam sebuah situasi kasus yang dialami.

2.    Menentukan siapa saja yang terlibat pada situasi kasus tersebut.

3.    Mengumpulkan berbagai fakta yang sesuai dengan situasi kasus yang dialami.

4.    Melakukan pengujian benar-salah atau uji legal, uji regulasi, uji halaman depan koran dan uji panutan/idola.

5.    Memastikan pengujian dengan paradigma benar lawan benar

6.    Melakukan prinsip resolusi yang tepat.

7.    Melakukan prinsip trilema sebagai opsi

8.    Membuat sebuah keputusan

9.    Meninjau Kembali keputusan yang diambil dan merefleksikan.

Langkah tersebut dapat mengindetifikasi penggolongan paradigma dilema etika dalam sebuah kasus. Apakah masuk dalam individu lawan masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) atau jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)?

Keputusan yang tepat secara arif dan bijaksana memerlukan prinsip sebagai dasarnya. Melalui langkah tersebut, dapat pula diindentifikasikan dengan jelas. keputusan itu dapat berprinsip berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking), berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking) atau berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking).

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?


Seorang pendidik harus memiliki self awareness, self management, social awareness, dan relatonship skill yang memadai. Kompetensi ini sangat penting dalam pengambilan keputusan khususnya yang menyangkut dilema etika. Kemampuan diri akan mendorong kepercayaan diri dalam berbicara, berpikir kritis dan bertindak yang rasional serta arif dan bijaksana. Hubungan sosial emosional akan mendukung tatakrama dalam koneksi relasi dan kolaborasi untuk menentukan keputusan yang baik. Tentunya semua itu harus ditunjang dengan keterampilan bersosialisasi dengan baik.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?


Pendidik adalah teladan sehingga memiliki pola pikir dan kepribadian yang baik. Contoh yang baik ini akan menjadi landasan peserta didik untuk menuntun perilaku atau karakternya dengan baik. Saat kasus moral atau etika terjadi, pendidik tidak akan canggung dalam menuntun perubahan perilaku. Kepercayaan diri dan motivasi intrinsiknya dapat menjadi modal dalam memberikan solusi untuk pengambilan sebuah keputusan. Tentu keputusan itu senantiasa berpihak pada siswa, memiliki nilai-nilai kebajikan serta dapat dipertanggungjawabkan.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

 

Keputusan yang tepat dalam lingkup sekolah adalah kebijakan yang selalui bijaksana dengan situasi dan kondisi yang ada. Prosedurnya sesuai dengan langkah-langkah pertimbangan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Jika keputusan itu senantiasa berpihak pada siswa dan mengandung nilai kebajikan maka akan berdampak pada saling pengertian dan pemahaman yang sama. Situasi ini akan membawa dampak postitif bagi lingkungan sekolah. Suasana kondusif, aman dan nyaman akan dapat diwujudkan.

 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

 

Wawancara dengan Kepala Sekolah saat kegiatan demosntrasi kontekstual diungkapkan beberapa kendala yang ada. Perbedaan pendapat dan pertentangan kecil dalam memutuskan kasus dilema etika adalah salah satunya. Namun pendekatan selalu dilakukan untuk bisa saling memahami. Peningkatan kasus yang terjadi menjadi gambaran kehidupan wilayah perkotaan. Demikian pula dengan dilema etika yang terjadi di sekolah. Butuh pendidik yang berpengalaman untuk menangani banyak kasus yang terjadi. Sehingga keputusan yang diambil bisa tepat dan diterima oleh semua pihak.

 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

 

Keputusan seorang pendidik tentu akan berdampak besar dalam kegiatan pembelajarannya. Menuntun siswa dengan pembelajaran yang berpihak pada mereka tentu membutuhkan keputusan dengan pertimbangan yang banyak. Melihat potensi dan bakatnya, kemampuan belajar ditahap sebelumnya atau kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Kegiatan pra asessmen ini penting dalam memetakan pola kegiatan pembelajaran dalam kelas. Memutuskan untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi menjadi penting untuk membimbing siswa sesuai dengan kodratnya. Menyiapkan konten yang beragam untuk dipilih, proses yang memberdayakan potensi diri siswa serta produk yang sesuai bakat dan minatnya.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Pemimpin pembelajaran merupakan sosok pengajar yang menuntun siswanya menuju keselamatan dan kesejahteraan hidupnya dimasa mendatang. Memutuskan pelaksanaan pembelajaran dalam menuntun siswa untuk belajar tentunya mengarah pada tujuan luhur. Sejatinya Pendidikan dan pembelajaran itu untuk memanusiakan manusia. Artinya bukan hanya menanamkan pengetahuan dan keterampilan saja, namun karakter menjadi yang utama. Semua itu merupakan kepribadian yang berprofil pelajar pancasila. Caranya dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan untuk menampakkan kebiasaan positif dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi modal siswa dalam meraih masa depannya yang lebih sejahtera.

 

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?


Kemampuan dalam kegiatan coaching telah mampu memberikan acuan untuk mengajukan pertanyaan yang mendasar.  Hal ini untuk memprediksi hasil dan melihat opsi saat melakukan wawancara kasus dilema etika para kepala sekolah dalam mengambil keputusan yang baik.

Kompentensi kemampuan diri, kesadaran diri dan social emosional dan hubungan social yang dipelajari pada modul sebelumnya telah memberikan kemampuan dalam menentukan pengambilan keputusan sebuah kasus dilema etika maupun bujukan moral.

Kesadaran penuh (mindful) dapat mefokuskan diri dalam penentuan pengambilan keputusan secara sadar terhadap berbegai pilihan dan konsekuensi yang ada.

 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?


Sadar ataupun tidak, sebenarnya kasus dilema etika selalu ada dan terjadi dalam lingkungan sekolah. Tanpa terkecuali didalam kegiatan pembelajaran. Saya tidak menduga sama sekali, jika sebuah kasus membutuhkan prosedur yang khas dalam menarik sebuah kesimpulan untuk memutuskannya. Bahkan terdapat pengujian beberapa kali.

 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?


Sebelumnya situasi moral dilema diputuskan dengan hati saja. Bisa jadi, ada kesalahan dalam menerjamahkan tindakan yang dilakukan. Hal ini kebanyakan terjadi pada kasus bujukan moral. Biasanya mengambil keputusan hanya berdasarkan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking) atau berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking). Namun kenyataannya terdapat satu prinsip yang dapat dijadikan acuan yakni berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking). Prinsip ini rupanya dapat menjadikan putusan lebih beretika dengan adanya tenggang rasa dan kemanusiaan.

 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 

Dampaknya sangat besar. Perubahannya Ketika kasus dilema etika terjadi dalam pembelajaran. Contohnya, waktu penyetoran produk pembelajaran IPA. Komunitas kelas telah menepekati sebuah nilai kebajikan disiplin. Namun seorang siswa tidak mampu menyetorkan tepat waktu. Rentang penyelesaiannya bahkan telah diulur hingga mundur seminggu. Artinya ada waktu dua minggu untuk mengerjakannya. Siswa itu mengutarakan alasannya bahwa kondisinya yang sakit masih dalam pemulihan selama dua minggu. Dia pun harus banyak istirahat dan dianjurkan dokter untuk tidak berpikir kuat serta menghindari stress. Penyakit tipes yang dideratinya memang berat. Ini adalah dilema keadilan dan kasihan serta individu dan masyarakat/kelompok. Jika dahulu kasus seperti ini keputusannya akan memberikan tugas pengganti sesuai dengan kepekatan kelas. Kali ini hanya memintanya menyelesaikannya lalu menyetorkan walaupun terlambat. Sayapun membicarakan hal tersebut dalam diskusi kelas tentang alasannya keterlambatan meyetorkan tugas tersebut.

 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 

Sangat penting sebab memberikan pengertian yang jauh bagaimana mengatasi kerumitan pengambilan keputusan pada keadaan yang sama-sama benar. Keptusan penting ini tentu harus arif dan bijaksana. Paradigma, prinsip dan langlah-langkah pengambilan keputusan dilema etika ini memberikan tuntunan untuk bertindak dengan bertanggung jawab, berpihak pada murid dan mengandung nilai-nilai kebajikan.


Suhardin - Guru SMPN 17 Kendari

CGP Angkatan 5  Tahun 2022 Kota Kendari



Selasa, 04 Oktober 2022

COACHING DALAM MEMBENTUK DIRI SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJAR

 


Kesimpulan dan Refleksi Modul 2.3

Suhardin – CGP Angkatan 5 – SMPN 17 Kendari

 

A.     Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar


1.        Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh. 

Memasuki kegiatan di modul 2.3 banyak pengalaman dari materi yang diberikan. Mengajarkan, bagaimana memposisikan diri menjadi seorang coach, coachee atau pun pemantau dalam kegiatan coaching? Menjadi coach tentu harus memahami prinsip dan alurnya. Harus bisa membedakan antara coaching, mentoring, fasilitator dan training. Dunia Pendidikan memang memiliki ciri khas tersendiri untuk melakukan coaching. Sebagai Among harus mampu mengambangkan paradigma dalam ruang kemerdekaan belajar. Melangkah pada modul selanjutnya, terdapat paradigma berpikir dan prinsip coaching. Modul ini juga memberikan pemahaman tentang alur TIRTA dan RASA dalam melakukan coaching. Percakapan yang dilakukan tidak selalu sama walaupun identik. Ada yang bersifat perencanaan, pemecahan masalah, refleksi dan kalibrasi. Dibagian akhir dibahas tentang supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching.


2.      Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar 

Selama ini, tugas coaching sedikit terdengar dalam kegiatan sekolah. Rupanya ini penting dalam pengembangan diri seorang guru berdasarkan potensi dirinya. Salah satu bentuknya adalah supervisi akademik. Biasanya kegiatan ini dilakukan oleh kepala sekolah dengan bentuk ukuran nilai yang harus dicapai. Mengejar komponen maupun indikator yang bersifat memaksa. Setelah mengikuti kegiatan ini, rupanya hal itu tidak sepatutnya tepat. Melalui prinsip dan paradigma yang diterapkan dalam coaching, seseorang akan mampu menggali potensinya, memahami dirinya serta mengungkapkan solusi yang akan ditempuhnya untuk keluar dari kedidaknyamanan.


3.      Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar?

Prinsip dan konsep coaching adalah materi awal yang dibaca untuk dimengerti fungsi maupun kegunaannya dalam dunia pendidikan. Pemahaman Teknik coaching melalui alur TIRTA dan Mendengar RASA menjadi hal utama yang harus dipahami. Konsep Coaching dalam supervisi akademik juga telah banyak didalami. Praktek coaching, pencerahan fasilitator dan pemaparan instruktur telah memberikan pemahaman untuk bisa mengimplementasikannya di kelas maupun di sekolah.


4.      apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar?

Kemampuan untuk menjadi seorang coach yang profesional memang masih jauh pangangan dari api. Melakukan identifikasi dan menggali aksi nyata menjadi hal yang perlu dipertajam untuk melakukan supervisi klinis. Ini pekerjaan yang baru bagi saya. Bukan berarti bisa cepat menjadi baik dalam waktu yang singkat. Idealnya, butuh proses untuk melakukannya dengan baik.


5.      Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi

Menjadi guru senior merupakan kesempatan baik dalam mengimplementasikan kegiatan coaching dalam pembelajaran maupun lingkungan sekolah. Kesempatan mengikuti CGP menjadi jembatan untuk menumbuhkan kemampuan positif pada diri agar mampu melakukan coaching. Manfaat kegiatan ini bukan hanya pada coachee semata namun bagi coach adalah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan orang lain. Bukan hanya membantu orang lain tetapi kematangan diri dalam berkomunikasi menjadi hal penting untuk melakukannya.

 

 


 

 

B.     Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP


1.  Memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh.

Mengapa coaching sangat penting bagi seorang pendidik maupun siswa? Menuntun siswa dengan memenuhi kebutuhan pembelajaran tentu bukan persoalan mudah. Interaksi yang terjadi bisa jadi tidak semulus yang dipikirkan. Mendalami dan menjiwai konsep, prinsip dan paradigma coaching dalam pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan ide baru, semangat maupun motivasi atau tindakan yang diambil agar dapat keluar dari suasana yang tidak ideal secara baik. Zona nyaman yang dirasakan belum tentu memberi ketentraman pada diri siswa. Sebagai pemimpin pembelajar seharusnya mampu memberikan coaching pada orang lain agar mampu memahami diri untuk berkembang dan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Bukan hanya pendidik, seorang siswa juga dilakukan coaching untuk mengetahui keadaan dirinya. Menumbuhkan kesadaran dan komitmen melalui coaching menjadi jalan untuk memberikan kesadaran tentang pentingnya pemikiran kritis yang berasal dari dirinya. Ide inilah akan menjadi jembatan yang baik dalam menata diri kebiasaan baik.


2.      Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru.

Merancang program inovasi kadangkala membuat orang lain tidak bisa menerimanya. Contohnya, seorang guru yang berpikir tentang bagaimana membuat media dengan keterpaduan kearifan local, sains dan teknologi yang berbasis masyarakat dalam implementasi profil pelajar Pancasila di sekolah? Menyisipkan hal ini dalam misi sekolah serta rancangan anggaran sekolah bukanlah hal mudah. Apakah hal ini harus diabaikan? Kegiatan coaching bisa menjadi jalan untuk mengungkapkan ide baru melalui kemampuan pengembangan diri pengajar tersebut. Mengangkat percakapan yang didasarkan keingintahuan, terbuka, kesadaran diri serta melihat peluang baru dimasa depan menjadi upayanya. Prinsip coaching dalam kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi akan menjadi acuan untuk mengajukan pertanyaan berbobot. Interaksi percakapan perencanaan, pemecahan masalah, refleksi maupun kalibrasi bisa dilakukan untuk menggali lebih jauh ide tersebut.


3.      menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah)

Mengajar pada lingkup SMP dengan tinjauan psikologis siswa yang bersifat labil dan “mencoba-coba”, tentu banyak masalah yang muncul. Begitu pula dalam konteks pembelajaran. Jika bergerak sendiri tentu hasilnya tidak maksimal. Oleh karena itu, tantangannya adalah bagaimana mengimplementasikan konsep, prinsip dan paradigma coaching dalam sekolah? Upaya ini untuk menggerakkan pengajar lain dalam satu irama pembinaan siswa.  Begitu pula dalam pola supervisi akademik. Harus ada keterbukaan dan kemauan untuk melakukan perubahan kearah yang ideal. Tentu hal ini bukan perkara mudah. Harus ada kebijakan pihak sekolah melalui kepala sekolah agar bisa membantu mengimplementasikannya. 


4.      memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi.

Membangun komunikasi dan kolabrosi menjadi pilihan untuk mewujudkan harapan baik ini. Memulai dari diri dan berupaya memberikan contoh menjadi upaya awal untuk menggugah. Melakukan dalam rumpun matapelajaran untuk mempraktekan coaching. Melibatkan siswa sebagai coachee dalam menyelesaikan masalahnya adalah sarana latihannya. Kebiasaan ini semoga bisa membantu kematangan diri untuk mengajukan program dalam kegiatan sekolah. Harus ada acuan jelas untuk membangun komunikasi sebagai relasi. Penting dalam menyambung saling memahami untuk mengimplementasikannya.

 

 

C.      Membuat Keterhubungan

1.        Pengalaman masa lalu

Teguran seorang guru terhadap kesalahan, dilakukan melalui surat peringatan. Apakah kawan-kawan pernah mengalaminya? Seorang kawan satu sekolah pernah terjadi suasana ini. Jika konsep dan implementasi coaching telah dipahami, bisa jadi hukuman itu akan berubah menjadi pengembangan diri. Bagaimana cara mengatasi masalah siswa di masa lalu? Menceramai dan mulai mengulas kesalahannya barulah diberilah nasihat. Apakah pernah kawan-kawan lakukannya? Semoga tidak seperti itu. Seharusnya memberikan kesempatan menerangkan duduk masalahnya. Apakah penanganannya telah mampu menumbuhkan keinginan dirinya dalam berubah? Bisa iya, jika caranya tepat. Apakah coaching telah dilakukan pada masa itu? Jawaban saya adalah belum optimal.

2.      Penerapan di masa depan

Tantangan jelas menghadang. Apakah harus mundur atau acuh saja untuk mengabaikannya? Kegiatan coaching menjadi upaya komunikasi efektif dalam penyelesaikan masalah seseorang. Sangat terbuka dan implementasinya secara luas. Bukan hanya pada lingkungan kelas bagi siswa, wilayah sekolah, ranah keluarga bahkan masyarakat sekitar rumah bisa menjadi lingkungan pembiasaan. Berbagi pengalaman menjadi penting agar banyak orang yang memiliki kemampuan yang sama untuk mengiplementasikannya. Pertanyaannya, Apakah kapasitas diri sudah ideal untuk berbagi? Kemampuan saat ini memang masih perlu diasah. Belajar sambil berbagi tentu bukan merupakan kesalahan. Inilah mimpi untuk masa depan tentang kegiatan coaching dalam benak dan angan-angan. Menurut kalian apakah hal ini salah? Bisa jadi pandangan kawan-kawan dapat berbeda atau pun sama.

3.      Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari

Menurut Ratnawati, 2019 pada modul Mata Kuliah Profesi Pendidikan di Universitas Esa Tunggal, menyatakan bahwa coaching dalam konsep pendidikan akan membentuk pembimbingan yang baik. Bukan hanya untuk siswa namun orang tua dan guru juga termasuk didalamnya. Coaching ini akan memberikan peluang yang terstruktur dalam sebuah program, bukan hanya perorangan tetapi dapat berupa tim untuk mengambangkan dan menguasai keterampilan tertentu. Pada modul ini dijelaskan, ada empat tahap pelaksanaan coaching yakni persiapan atau orientasi, diskusi atau klarifikasi, aktif coaching atau tahap pemecahan (perubahan), follow up atau tahap penutup.

4.      Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP.

Mengikuti kegiatan ruang kolabrasi, materi coaching ini dipaparkan oleh Instruktur dari Sulewesi Tenggara. Narasumber menyampaikan paparan yang luwes dan terarah tentang coaching bagi seorang guru. Seorang peserta penyoroti tentang konsep nilai dan acuan patokan yang diterapkan dalam supervisi. Kemampuan dan update keilmuan kepala sekolah sangat penting untuk bisa menjalankan coaching dalam supervisi akademik. Keberadaan guru penggerak menjadi batu loncatan untuk munculnya kebijakan baru dalam pola kegiatan supervisi klinis di sekolah. Memegang teguh konsep coaching dan mengiplementasikannya menjadi harapan baru. Menumbuhkannya untuk sebuah perubahan. Inilah sebagian konsep dan pendapat yang diperoleh saat sesi daring di hari Selasa, 4 Oktober 2022.

 

 




Bagaimana keterkaitannya dengan modul sebelumnya?

Menjalankan pembelajaran diferensiasi dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tentu bisa dipecahkan dengan teknik coaching. Tanpa disadari, pembicaraan tentang konten, proses dan produk dapat terungkap melalui pertanyaan pemecahan masalah. Menuntun siswa sesuai dengan kepentingan belajarnya selalu ada kejenuhan atau motivasi yang tidak stabil. Coaching dapat menjadi wadah untuk memecahkannya. Coach yang berpengalaman akan dapat menggali ide, mengidentifikasi bahkan memunculkan percakapan aksi nyata dalam prosesnya. Pengendalian social emosional tentu diperlukan dalam kegiatan coaching. Ketentraman, siasana hati yang nyaman, perasaan senang dan konsentrasi sangat penting dalam menerapkan kehadiran penuh.

KEGIATAN P5 BERTEMA PENGELOLAAN SAMPAH DI SMPN 17 KENDARI

  Membaca buletin selengkapnya buka link berikut https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/buletinseventeen2023-2024/halaman-muka/edisi-a...