Selasa, 04 Oktober 2022

COACHING DALAM MEMBENTUK DIRI SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJAR

 


Kesimpulan dan Refleksi Modul 2.3

Suhardin – CGP Angkatan 5 – SMPN 17 Kendari

 

A.     Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar


1.        Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh. 

Memasuki kegiatan di modul 2.3 banyak pengalaman dari materi yang diberikan. Mengajarkan, bagaimana memposisikan diri menjadi seorang coach, coachee atau pun pemantau dalam kegiatan coaching? Menjadi coach tentu harus memahami prinsip dan alurnya. Harus bisa membedakan antara coaching, mentoring, fasilitator dan training. Dunia Pendidikan memang memiliki ciri khas tersendiri untuk melakukan coaching. Sebagai Among harus mampu mengambangkan paradigma dalam ruang kemerdekaan belajar. Melangkah pada modul selanjutnya, terdapat paradigma berpikir dan prinsip coaching. Modul ini juga memberikan pemahaman tentang alur TIRTA dan RASA dalam melakukan coaching. Percakapan yang dilakukan tidak selalu sama walaupun identik. Ada yang bersifat perencanaan, pemecahan masalah, refleksi dan kalibrasi. Dibagian akhir dibahas tentang supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching.


2.      Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar 

Selama ini, tugas coaching sedikit terdengar dalam kegiatan sekolah. Rupanya ini penting dalam pengembangan diri seorang guru berdasarkan potensi dirinya. Salah satu bentuknya adalah supervisi akademik. Biasanya kegiatan ini dilakukan oleh kepala sekolah dengan bentuk ukuran nilai yang harus dicapai. Mengejar komponen maupun indikator yang bersifat memaksa. Setelah mengikuti kegiatan ini, rupanya hal itu tidak sepatutnya tepat. Melalui prinsip dan paradigma yang diterapkan dalam coaching, seseorang akan mampu menggali potensinya, memahami dirinya serta mengungkapkan solusi yang akan ditempuhnya untuk keluar dari kedidaknyamanan.


3.      Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar?

Prinsip dan konsep coaching adalah materi awal yang dibaca untuk dimengerti fungsi maupun kegunaannya dalam dunia pendidikan. Pemahaman Teknik coaching melalui alur TIRTA dan Mendengar RASA menjadi hal utama yang harus dipahami. Konsep Coaching dalam supervisi akademik juga telah banyak didalami. Praktek coaching, pencerahan fasilitator dan pemaparan instruktur telah memberikan pemahaman untuk bisa mengimplementasikannya di kelas maupun di sekolah.


4.      apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar?

Kemampuan untuk menjadi seorang coach yang profesional memang masih jauh pangangan dari api. Melakukan identifikasi dan menggali aksi nyata menjadi hal yang perlu dipertajam untuk melakukan supervisi klinis. Ini pekerjaan yang baru bagi saya. Bukan berarti bisa cepat menjadi baik dalam waktu yang singkat. Idealnya, butuh proses untuk melakukannya dengan baik.


5.      Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi

Menjadi guru senior merupakan kesempatan baik dalam mengimplementasikan kegiatan coaching dalam pembelajaran maupun lingkungan sekolah. Kesempatan mengikuti CGP menjadi jembatan untuk menumbuhkan kemampuan positif pada diri agar mampu melakukan coaching. Manfaat kegiatan ini bukan hanya pada coachee semata namun bagi coach adalah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan orang lain. Bukan hanya membantu orang lain tetapi kematangan diri dalam berkomunikasi menjadi hal penting untuk melakukannya.

 

 


 

 

B.     Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP


1.  Memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh.

Mengapa coaching sangat penting bagi seorang pendidik maupun siswa? Menuntun siswa dengan memenuhi kebutuhan pembelajaran tentu bukan persoalan mudah. Interaksi yang terjadi bisa jadi tidak semulus yang dipikirkan. Mendalami dan menjiwai konsep, prinsip dan paradigma coaching dalam pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan ide baru, semangat maupun motivasi atau tindakan yang diambil agar dapat keluar dari suasana yang tidak ideal secara baik. Zona nyaman yang dirasakan belum tentu memberi ketentraman pada diri siswa. Sebagai pemimpin pembelajar seharusnya mampu memberikan coaching pada orang lain agar mampu memahami diri untuk berkembang dan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Bukan hanya pendidik, seorang siswa juga dilakukan coaching untuk mengetahui keadaan dirinya. Menumbuhkan kesadaran dan komitmen melalui coaching menjadi jalan untuk memberikan kesadaran tentang pentingnya pemikiran kritis yang berasal dari dirinya. Ide inilah akan menjadi jembatan yang baik dalam menata diri kebiasaan baik.


2.      Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru.

Merancang program inovasi kadangkala membuat orang lain tidak bisa menerimanya. Contohnya, seorang guru yang berpikir tentang bagaimana membuat media dengan keterpaduan kearifan local, sains dan teknologi yang berbasis masyarakat dalam implementasi profil pelajar Pancasila di sekolah? Menyisipkan hal ini dalam misi sekolah serta rancangan anggaran sekolah bukanlah hal mudah. Apakah hal ini harus diabaikan? Kegiatan coaching bisa menjadi jalan untuk mengungkapkan ide baru melalui kemampuan pengembangan diri pengajar tersebut. Mengangkat percakapan yang didasarkan keingintahuan, terbuka, kesadaran diri serta melihat peluang baru dimasa depan menjadi upayanya. Prinsip coaching dalam kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi akan menjadi acuan untuk mengajukan pertanyaan berbobot. Interaksi percakapan perencanaan, pemecahan masalah, refleksi maupun kalibrasi bisa dilakukan untuk menggali lebih jauh ide tersebut.


3.      menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah)

Mengajar pada lingkup SMP dengan tinjauan psikologis siswa yang bersifat labil dan “mencoba-coba”, tentu banyak masalah yang muncul. Begitu pula dalam konteks pembelajaran. Jika bergerak sendiri tentu hasilnya tidak maksimal. Oleh karena itu, tantangannya adalah bagaimana mengimplementasikan konsep, prinsip dan paradigma coaching dalam sekolah? Upaya ini untuk menggerakkan pengajar lain dalam satu irama pembinaan siswa.  Begitu pula dalam pola supervisi akademik. Harus ada keterbukaan dan kemauan untuk melakukan perubahan kearah yang ideal. Tentu hal ini bukan perkara mudah. Harus ada kebijakan pihak sekolah melalui kepala sekolah agar bisa membantu mengimplementasikannya. 


4.      memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi.

Membangun komunikasi dan kolabrosi menjadi pilihan untuk mewujudkan harapan baik ini. Memulai dari diri dan berupaya memberikan contoh menjadi upaya awal untuk menggugah. Melakukan dalam rumpun matapelajaran untuk mempraktekan coaching. Melibatkan siswa sebagai coachee dalam menyelesaikan masalahnya adalah sarana latihannya. Kebiasaan ini semoga bisa membantu kematangan diri untuk mengajukan program dalam kegiatan sekolah. Harus ada acuan jelas untuk membangun komunikasi sebagai relasi. Penting dalam menyambung saling memahami untuk mengimplementasikannya.

 

 

C.      Membuat Keterhubungan

1.        Pengalaman masa lalu

Teguran seorang guru terhadap kesalahan, dilakukan melalui surat peringatan. Apakah kawan-kawan pernah mengalaminya? Seorang kawan satu sekolah pernah terjadi suasana ini. Jika konsep dan implementasi coaching telah dipahami, bisa jadi hukuman itu akan berubah menjadi pengembangan diri. Bagaimana cara mengatasi masalah siswa di masa lalu? Menceramai dan mulai mengulas kesalahannya barulah diberilah nasihat. Apakah pernah kawan-kawan lakukannya? Semoga tidak seperti itu. Seharusnya memberikan kesempatan menerangkan duduk masalahnya. Apakah penanganannya telah mampu menumbuhkan keinginan dirinya dalam berubah? Bisa iya, jika caranya tepat. Apakah coaching telah dilakukan pada masa itu? Jawaban saya adalah belum optimal.

2.      Penerapan di masa depan

Tantangan jelas menghadang. Apakah harus mundur atau acuh saja untuk mengabaikannya? Kegiatan coaching menjadi upaya komunikasi efektif dalam penyelesaikan masalah seseorang. Sangat terbuka dan implementasinya secara luas. Bukan hanya pada lingkungan kelas bagi siswa, wilayah sekolah, ranah keluarga bahkan masyarakat sekitar rumah bisa menjadi lingkungan pembiasaan. Berbagi pengalaman menjadi penting agar banyak orang yang memiliki kemampuan yang sama untuk mengiplementasikannya. Pertanyaannya, Apakah kapasitas diri sudah ideal untuk berbagi? Kemampuan saat ini memang masih perlu diasah. Belajar sambil berbagi tentu bukan merupakan kesalahan. Inilah mimpi untuk masa depan tentang kegiatan coaching dalam benak dan angan-angan. Menurut kalian apakah hal ini salah? Bisa jadi pandangan kawan-kawan dapat berbeda atau pun sama.

3.      Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari

Menurut Ratnawati, 2019 pada modul Mata Kuliah Profesi Pendidikan di Universitas Esa Tunggal, menyatakan bahwa coaching dalam konsep pendidikan akan membentuk pembimbingan yang baik. Bukan hanya untuk siswa namun orang tua dan guru juga termasuk didalamnya. Coaching ini akan memberikan peluang yang terstruktur dalam sebuah program, bukan hanya perorangan tetapi dapat berupa tim untuk mengambangkan dan menguasai keterampilan tertentu. Pada modul ini dijelaskan, ada empat tahap pelaksanaan coaching yakni persiapan atau orientasi, diskusi atau klarifikasi, aktif coaching atau tahap pemecahan (perubahan), follow up atau tahap penutup.

4.      Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP.

Mengikuti kegiatan ruang kolabrasi, materi coaching ini dipaparkan oleh Instruktur dari Sulewesi Tenggara. Narasumber menyampaikan paparan yang luwes dan terarah tentang coaching bagi seorang guru. Seorang peserta penyoroti tentang konsep nilai dan acuan patokan yang diterapkan dalam supervisi. Kemampuan dan update keilmuan kepala sekolah sangat penting untuk bisa menjalankan coaching dalam supervisi akademik. Keberadaan guru penggerak menjadi batu loncatan untuk munculnya kebijakan baru dalam pola kegiatan supervisi klinis di sekolah. Memegang teguh konsep coaching dan mengiplementasikannya menjadi harapan baru. Menumbuhkannya untuk sebuah perubahan. Inilah sebagian konsep dan pendapat yang diperoleh saat sesi daring di hari Selasa, 4 Oktober 2022.

 

 




Bagaimana keterkaitannya dengan modul sebelumnya?

Menjalankan pembelajaran diferensiasi dengan berbagai permasalahan yang dihadapi tentu bisa dipecahkan dengan teknik coaching. Tanpa disadari, pembicaraan tentang konten, proses dan produk dapat terungkap melalui pertanyaan pemecahan masalah. Menuntun siswa sesuai dengan kepentingan belajarnya selalu ada kejenuhan atau motivasi yang tidak stabil. Coaching dapat menjadi wadah untuk memecahkannya. Coach yang berpengalaman akan dapat menggali ide, mengidentifikasi bahkan memunculkan percakapan aksi nyata dalam prosesnya. Pengendalian social emosional tentu diperlukan dalam kegiatan coaching. Ketentraman, siasana hati yang nyaman, perasaan senang dan konsentrasi sangat penting dalam menerapkan kehadiran penuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGIATAN P5 BERTEMA PENGELOLAAN SAMPAH DI SMPN 17 KENDARI

  Membaca buletin selengkapnya buka link berikut https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/buletinseventeen2023-2024/halaman-muka/edisi-a...