Rabu, 19 Oktober 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MDOUL 3.1 GURU PENGGERAK ANGKATAN 5

 


Suhardin - SMPN 17 KENDARI  - CGP Angkatan 5 Tahun 2022 Kota Kendari

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?


Kegiatan demosntrasi kontekstual modul 3.1 dilakukan pada dua sekolah yang berbeda yakni SMPN 17 Kendari dan SMP Kartika XX-6 Kendari. Walaupun kedua sekolah ini berbeda status namun Kepala Sekolahnya memberikan tanggapan yang sama menyangkut hal yang berhubungan dengan patrap triloka Ki Hajar Dewantara. Wawancara ini difokuskan pada penanganan kasus dilema etika di lingkungan sekolah. Kedua narasumber mengungkapkan tentang pentingnya keteladanan sebagai salah satu faktor pendukung pengambilan keputusan.

Kata teladan ini sesuai dengan semboyan Ing ngarso sung tuladha pada filosofi Ki Hajar Dewantara. Banyak hal yang diutarakan tentang kasus penanganan kedisplinan siswa. Keduanya pun seirama bahwa membuat keputusan yang berpusat pada murid selalu tetap menjaga semangat siswa untuk terus mau belajar dan menuntut ilmu. Apakah anak ini karena pelanggaran berat yang dilakukannya, dapat dikeluarkan atau tidak dari sekolah?

Jawabannya harus mempertimbangkan masa depan anak, semangat bersekolah dan keberlangsungan pendidikannya. Pemberian motivasi ini sesuai ungkapan ing madya mangun karsa dalam filosofi Ki Hajar Dewantara. Saat penanganan kasus dilema etika, kedua sekolah melakukan penanganan berjenjang dan memiliki tim kerja. Sebagai manajer, kedua kepala sekolah mengungkapkan bahwa prosedur yang diambil atas kesepakatan kolaborasi yang saling mendukung untuk kebaikan. Tentunya hal ini sesuai dengan istilah tut wuri handayani pada filosofi Ki Hajar Dewantara.

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Seorang pendidik senantiasa memiliki nilai-nilai keteladanan bagi siswanya. Nilai-nilai universal sebagai nilai-nilai kebajikan ini dapat berpengaruh pada prinsip pengambilan keputusan suatu kasus dilema etika. Nilai-nilai kebajikan universal ini bisa berupa tanggung jawab, keadilan, kasih sayang, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, rajin, komitmen, kesabaran atau percaya diri dan masih banyak lagi yang bisa tumbuh dan berkembang pada diri seseorang. Karakter postif inilah yang akan menumbuhkan empati dan pemahaman situasi saat terjadi kasus pada siswa. Menjadi penyeimbang untuk memilih antara dua pilihan yang kedua pilihan secara moral adalah benar tetapi mengandung bertentangan. 

 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya


Pengambilan keputusan berbasis coaching dapat mengarahkan kebijakan yang bersifat etis dan bijaksana. Pengujian dalam memutuskan kasus khususnya yang berkaitan dengan dilema etika ataupun bujukan moral dapat mengacu pada sembilan langkah yakni:

1.    Mampu mengenali adanya nilai-nilai yang bertentangan dalam sebuah situasi kasus yang dialami.

2.    Menentukan siapa saja yang terlibat pada situasi kasus tersebut.

3.    Mengumpulkan berbagai fakta yang sesuai dengan situasi kasus yang dialami.

4.    Melakukan pengujian benar-salah atau uji legal, uji regulasi, uji halaman depan koran dan uji panutan/idola.

5.    Memastikan pengujian dengan paradigma benar lawan benar

6.    Melakukan prinsip resolusi yang tepat.

7.    Melakukan prinsip trilema sebagai opsi

8.    Membuat sebuah keputusan

9.    Meninjau Kembali keputusan yang diambil dan merefleksikan.

Langkah tersebut dapat mengindetifikasi penggolongan paradigma dilema etika dalam sebuah kasus. Apakah masuk dalam individu lawan masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) atau jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)?

Keputusan yang tepat secara arif dan bijaksana memerlukan prinsip sebagai dasarnya. Melalui langkah tersebut, dapat pula diindentifikasikan dengan jelas. keputusan itu dapat berprinsip berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking), berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking) atau berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking).

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?


Seorang pendidik harus memiliki self awareness, self management, social awareness, dan relatonship skill yang memadai. Kompetensi ini sangat penting dalam pengambilan keputusan khususnya yang menyangkut dilema etika. Kemampuan diri akan mendorong kepercayaan diri dalam berbicara, berpikir kritis dan bertindak yang rasional serta arif dan bijaksana. Hubungan sosial emosional akan mendukung tatakrama dalam koneksi relasi dan kolaborasi untuk menentukan keputusan yang baik. Tentunya semua itu harus ditunjang dengan keterampilan bersosialisasi dengan baik.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?


Pendidik adalah teladan sehingga memiliki pola pikir dan kepribadian yang baik. Contoh yang baik ini akan menjadi landasan peserta didik untuk menuntun perilaku atau karakternya dengan baik. Saat kasus moral atau etika terjadi, pendidik tidak akan canggung dalam menuntun perubahan perilaku. Kepercayaan diri dan motivasi intrinsiknya dapat menjadi modal dalam memberikan solusi untuk pengambilan sebuah keputusan. Tentu keputusan itu senantiasa berpihak pada siswa, memiliki nilai-nilai kebajikan serta dapat dipertanggungjawabkan.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

 

Keputusan yang tepat dalam lingkup sekolah adalah kebijakan yang selalui bijaksana dengan situasi dan kondisi yang ada. Prosedurnya sesuai dengan langkah-langkah pertimbangan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Jika keputusan itu senantiasa berpihak pada siswa dan mengandung nilai kebajikan maka akan berdampak pada saling pengertian dan pemahaman yang sama. Situasi ini akan membawa dampak postitif bagi lingkungan sekolah. Suasana kondusif, aman dan nyaman akan dapat diwujudkan.

 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

 

Wawancara dengan Kepala Sekolah saat kegiatan demosntrasi kontekstual diungkapkan beberapa kendala yang ada. Perbedaan pendapat dan pertentangan kecil dalam memutuskan kasus dilema etika adalah salah satunya. Namun pendekatan selalu dilakukan untuk bisa saling memahami. Peningkatan kasus yang terjadi menjadi gambaran kehidupan wilayah perkotaan. Demikian pula dengan dilema etika yang terjadi di sekolah. Butuh pendidik yang berpengalaman untuk menangani banyak kasus yang terjadi. Sehingga keputusan yang diambil bisa tepat dan diterima oleh semua pihak.

 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

 

Keputusan seorang pendidik tentu akan berdampak besar dalam kegiatan pembelajarannya. Menuntun siswa dengan pembelajaran yang berpihak pada mereka tentu membutuhkan keputusan dengan pertimbangan yang banyak. Melihat potensi dan bakatnya, kemampuan belajar ditahap sebelumnya atau kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Kegiatan pra asessmen ini penting dalam memetakan pola kegiatan pembelajaran dalam kelas. Memutuskan untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi menjadi penting untuk membimbing siswa sesuai dengan kodratnya. Menyiapkan konten yang beragam untuk dipilih, proses yang memberdayakan potensi diri siswa serta produk yang sesuai bakat dan minatnya.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Pemimpin pembelajaran merupakan sosok pengajar yang menuntun siswanya menuju keselamatan dan kesejahteraan hidupnya dimasa mendatang. Memutuskan pelaksanaan pembelajaran dalam menuntun siswa untuk belajar tentunya mengarah pada tujuan luhur. Sejatinya Pendidikan dan pembelajaran itu untuk memanusiakan manusia. Artinya bukan hanya menanamkan pengetahuan dan keterampilan saja, namun karakter menjadi yang utama. Semua itu merupakan kepribadian yang berprofil pelajar pancasila. Caranya dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan untuk menampakkan kebiasaan positif dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi modal siswa dalam meraih masa depannya yang lebih sejahtera.

 

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?


Kemampuan dalam kegiatan coaching telah mampu memberikan acuan untuk mengajukan pertanyaan yang mendasar.  Hal ini untuk memprediksi hasil dan melihat opsi saat melakukan wawancara kasus dilema etika para kepala sekolah dalam mengambil keputusan yang baik.

Kompentensi kemampuan diri, kesadaran diri dan social emosional dan hubungan social yang dipelajari pada modul sebelumnya telah memberikan kemampuan dalam menentukan pengambilan keputusan sebuah kasus dilema etika maupun bujukan moral.

Kesadaran penuh (mindful) dapat mefokuskan diri dalam penentuan pengambilan keputusan secara sadar terhadap berbegai pilihan dan konsekuensi yang ada.

 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?


Sadar ataupun tidak, sebenarnya kasus dilema etika selalu ada dan terjadi dalam lingkungan sekolah. Tanpa terkecuali didalam kegiatan pembelajaran. Saya tidak menduga sama sekali, jika sebuah kasus membutuhkan prosedur yang khas dalam menarik sebuah kesimpulan untuk memutuskannya. Bahkan terdapat pengujian beberapa kali.

 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?


Sebelumnya situasi moral dilema diputuskan dengan hati saja. Bisa jadi, ada kesalahan dalam menerjamahkan tindakan yang dilakukan. Hal ini kebanyakan terjadi pada kasus bujukan moral. Biasanya mengambil keputusan hanya berdasarkan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking) atau berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking). Namun kenyataannya terdapat satu prinsip yang dapat dijadikan acuan yakni berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking). Prinsip ini rupanya dapat menjadikan putusan lebih beretika dengan adanya tenggang rasa dan kemanusiaan.

 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

 

Dampaknya sangat besar. Perubahannya Ketika kasus dilema etika terjadi dalam pembelajaran. Contohnya, waktu penyetoran produk pembelajaran IPA. Komunitas kelas telah menepekati sebuah nilai kebajikan disiplin. Namun seorang siswa tidak mampu menyetorkan tepat waktu. Rentang penyelesaiannya bahkan telah diulur hingga mundur seminggu. Artinya ada waktu dua minggu untuk mengerjakannya. Siswa itu mengutarakan alasannya bahwa kondisinya yang sakit masih dalam pemulihan selama dua minggu. Dia pun harus banyak istirahat dan dianjurkan dokter untuk tidak berpikir kuat serta menghindari stress. Penyakit tipes yang dideratinya memang berat. Ini adalah dilema keadilan dan kasihan serta individu dan masyarakat/kelompok. Jika dahulu kasus seperti ini keputusannya akan memberikan tugas pengganti sesuai dengan kepekatan kelas. Kali ini hanya memintanya menyelesaikannya lalu menyetorkan walaupun terlambat. Sayapun membicarakan hal tersebut dalam diskusi kelas tentang alasannya keterlambatan meyetorkan tugas tersebut.

 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 

Sangat penting sebab memberikan pengertian yang jauh bagaimana mengatasi kerumitan pengambilan keputusan pada keadaan yang sama-sama benar. Keptusan penting ini tentu harus arif dan bijaksana. Paradigma, prinsip dan langlah-langkah pengambilan keputusan dilema etika ini memberikan tuntunan untuk bertindak dengan bertanggung jawab, berpihak pada murid dan mengandung nilai-nilai kebajikan.


Suhardin - Guru SMPN 17 Kendari

CGP Angkatan 5  Tahun 2022 Kota Kendari



1 komentar:

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...