Selasa, 25 September 2018

BULETIN SEVENTEEN : CERITA INOVASIKU DI PULAU DEWATA (Suhardin dalam Sebuah Testimony Sederhana)

Terpaan panas menyambutku ketika tiba di Bandar Udara Ngurahrai Provinsi Bali. Canda dan tawa telah menjadi pelipur dahaga dan lelah bersama rekan-rekanku. Tidak seperti tahun sebelumnya, kali ini aku tidak sendiri. Dua rekan sedaerah di Sultra dan beberapa guru dari Provinsi Sulawesi Selatan telah menemaniku semenjak dari Bandar Udara Sultan Hasanuddin.
“Guru inovator” kata sebagian kawanku di Kendari. Julukan itu, memang beralasan. Kegiatan yang kami ikuti adalah lomba inovasi pembelajaran (inobel). Semua peserta harus memiliki inovasi dalam pembelajaran. Tapi terserah kata mereka, terpentingnya bagiku adalah tamasya ke Bali. Selain sarana display dan karya tulis, peralatan selfie menjadi bahan utama dalam daftar barang bagasi. Namanya saja kota dengan seribu satu destinasi wisata. Belum ke sana jika tidak ada bukti. Jadi dokumentasi itu penting, kata kawan kerjaku sebelum berangkat.
Bertemu degan guru se-Indonesia menjadi hal yang paling berharga. Bisa mengenal kebiasaan dan pengalaman mengajar mereka lebih dekat. Belajar dari pengalaman itu merupakan pelajaran terbaik. Berbagai inovasi yang dibuat dapat menjadi ide dan gagasan baru dalam mengajar di Kendari. Tidak perduli cocok atau tidak, yang penting tampung lalu pertimbangkan. Bisa jadi dengan sedikit revisi dapat bermanfaat dalam memberikan semangat baru bagi anak didikku.
Suasana lomba menjadi waktu yang mendebarkan. Banyak hal yang dilakukan oleh peserta. Berbincang, keluar masuk kamar mandi, sibuk menata meja yang telah rapi,  bahkan ada yang terdiam menyendiri di sudut ruangan. Itulah cara mereka menghilangkan ketegangan. Kegiatan display merupakan penilain pertama dalam lomba ini. Setiap peserta dituntut mampu memperlihatkan media, strategi maupun keunggulan penelitiannya. Suasana riuh dengan ucapan keras berbaur dengan alunan music yang terdengar. Bukan karena pertengkaran maupun kegiatan tawar menawar, akan tetapi adu argument dan meyakinkan juri adalah penyebabnya. Siapaun dia dan apa saja alasannya, tidak mau kalah ataupun malu. Jadi bicara dan tunjukkan, merupakan aksi dominan setiap peserta.
Keteganganpun mulai menyelimuti peserta saat kegiatan presentase. Aku tahu dari percakapan mereka. Bahkan ada yang ngotot tampil hampir tengah malam agar bisa tidur nyeyak setelahnya. “Bapak kenapa kurang semangat dan suaranya kecil?” Kata seorang juri. “Maaf pak, saya tadi belum makan.” Kata peserta yang tampil di depan. Rupanya lantaran ketegangan, dia tidak enak untuk makan siang. Walaupun aku tegang, namun tidak terdekteksi oleh orang lain. Maklumlah saat presentase peserta lain, aku berusaha untuk tertidur walaupun sebentar atau memasang handset dengan alunan lagu kesukaanku. Hanya sebagian saja kejadian yang sempat teramatai. Jadi ketegangan mereka tidak terlintas seutuhnya dalam benakku.

Wisata edukasi menjadi acara yang paling ditunggu. Jalan-jalan …..! Wow, ini yang aku suka. Duduk dalam bus parawisata menjadi singkat saat menuju ke pantai water blue. Pemandangan alam yang mempesona sehingga memanjakan mata tidak luput dari setiap sisi penglihatanku. Dentuman ombak besar yang memecah pada batuan cadas serta hamparan taman yang apik dan mempesona menjadi penyemangat jiwa. Lelah beberapa hari, kini terbayar sudah. Berbagai peralatan selfie dengan merek yang berbeda mulai terlihat digenggaman para peserta. Model berfoto dan pilihan latar begitu beragam. Lucu, unik dan menghibur. Semua itu adalah luapan kegembiraan yang tidak dapat terukur dengan rupiah. Tidak hanya sampai disitu, Wisata Uluwatu dan Kawasan Garuda Wisnu Kencana menjadi destinasi berikutnya. Rasa lelah tidak dapat tersembunyikan, namun raut wajah sebagian besar peserta menyatakan isyarat keinginan untuk menikmatinya kembali di kemudian hari.
Kicau kata bertutur serentak terhenti, ketika pembawa acara membuka kegiatan penutupan Lomba Inovasi Pembelajaran Jenjang Pendidikan Dasar Tahun 2018. Saat dinanti akhirnya tiba. Satu persatu nama pemenang dibacakan. Sontak sorai dan tepuk tangan mengiringi langkah inovator baru dalam pembelajaran. Suasana menjadi berbeda saat nominasi pertama tiap bidang dibacakan. Bagai ketiban durian runtuh tanpa kulit, salah satu nama itu adalah aku. Alhamdulillah, kerja keras dan kerja sama dalam pembelajaran tenyata diapreasi baik oleh dewan juri. Aku sadar, kegigihan siswa-siswaku merupakan salah satu penentu  raihan prestasi yang diperoleh saat ini.

Bacajuga https://sultrakini.com/amp/berita/bekal-terasi-mengantarkan-guru-ini-juarai-ajang-inovasi-prakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...