Selasa, 17 Januari 2017

Cerpen 9

Bunyi tegukan air di kerongorangan La Mente dan La Rato telah menghilangkan dahaga setelah berjalan cukup jauh. Mareka meninggalkan rumah di pusat kampung Lahontohe semenjak pagi hari. Jalan yang ditempuh memang berbatu dan menanjak agar sampai di kampung lama. Kebera daan Kontu Kowuna merupakan dorongan kuat keduanya untuk penapaki setiap langkah jalan setapak yang melelahkan itu. “Aku sepertinya tidak kuat lagi untuk berjalan.” Ungkap La Mente. “Baru berjalan satu jam saja sudah menyerah.” Kata La Rato. “Aku tidak menyerah.” “Memangnya kalau kamu tidak berjalan akan sampai ke tempat Kontu kowuna?” “Maksud saya, Apakah tidak ada cara lain agar sampai di sana tidak dengan berjalan kaki?” “Eh…bangun cepat, kamu ini mimpi ya! Ayo kita jalan lagi.” La Rato menarik lengan La Mente sambil mengangkat rangselnya. Kelelahan yang dirasakan La Mente memang belum usai. Dua langkah berjalan La Mente merebahkan kembali badanya, lalu bersandar ke batang pohon yang berada di dekatnya. “Aduh…kenapa berhenti lagi. Kita bisa kemalaman di sini, Mente!” “Rato? Kita istirahat dulu yah! Aku benar-benar kelelahan.” “Baiklah, tapi jangan tidur dan tidak lama-lama!” “Siapa yang mau tidur? Aku hanya minta istirahat sebentar.” “Kamu itu kalau sudah lelah pasti tertidur.” “Iya…Aku janji tidak akan tertidur.” Janji itu rupanya diingkari oleh La Mente. Kesejukan hutan membuat katup bola matanya semakin menutup. Suara mendenging serangga hutan bagaikan melantunkan lagu yang sangat merdu. Itu sudah cukup mengantarkan La Mente yang hampir terbuai mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...