Minggu, 22 Januari 2017

BULETIN SEVENTEEN : CERPEN 10




Matahari tepat berada di atas kepala saat La Hadi dan kakeknya menurunkan ikatan bambu dari pundaknya. Keduanya kemudian menyandarkan bambu itu pada pohon rindang di tepi jalan setapak yang biasa mereka lalui. Kegiatan itu selalu dilakukan untuk penyambung hidup sebagai pembuat dinding bambu. Kepindahan La Hadi ke kampung menjadi berkah tersendiri bagi kakeknya. Bukan hanya dapat membantunya akan tetapi kehadiran La Hadi telah membuat hati kakeknya menjadi lebih riang. Banyak hal yang dipercakapkan walaupun mungkin tidak penting jika orang lain mendengarnya. Namun bagi La Hadi cerita kakeknya selalu unik untuk dicermati.
“Aku kagum kakek masih kuat memikul bambu.”
“Inilah keahlian kakek yang diwariskan turun temurun.”
“Aku tidak mau menjadi pembuat dinding bambu, kek.”
“Memangnya kakek bilang begitu?”
“Tapi kakek bilangnya warisan turun temurun, berarti kakek akan mewariskannya padaku.”
“Kalau kamu mau kenapa tidak?”
“Pokoknya aku tidak mau kek. Aku akan bersekolah agar bisa kerja yang lebih bagus dari pekerjaan pembuat dinding bambu. Lama kelamaan tidak ada lagi yang memesan dinding bambu.”
“Baguslah kalau kamu berpikiran seperti itu, Kakek suka itu. Di zaman dahulu walaupun sekolah tinggi susah untuk mencari kerja yang layak.”
“Memangnya kakek dahulu tidak sekolah?”
“Sekolah dong…”
“Kenapa kakek tidak cari kerja yang bagus?”
“Sekolah kakek hanya sampai kelas tiga di Sekolah Rakyat. Tapi itu belum cukup untuk bekerja karena harus pindah ke kota untuk melanjutkanya. Setelah itu barulah bisa bekerja.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...