Selasa, 23 April 2024

MEMUPUS RESAH DENGAN PENERBANGAN PERDANA (BAGIAN 1) - KISAH INSPIRATIF

 


MEMUPUS RESAH DENGAN PENERBANGAN PERDANA (BAGIAN !)

 

Langkah kaki dari kantin sekolah terhenti seketika. Pandangan terarah pada Dewi yang duduk menyendiri. Arah pun berubah haluan. Duduk didekatnya sambil menawarkan minuman gelas. Gadis itu hanya menatap sesaat lalu tertunduk lagi. Akupun meletakkan tempat di samping kanannya.

 

“Kamu lagi sakit ya?” Tanyaku. Dia hanya menggeleng lalu meraih minuman yang berada disampingnya.

“Saya ambil teh gelas ya pak?”

“Boleh.”

 

Lama terdiam, aku pun mulai mencoba memecah kesunyian siang itu.

 

“Ini sudah masuk jam berikutnya.”

“Maaf pak, pikiran saya lagi kacau.”

“Lantas…”

“Saya ingin duduk-duduk dulu di luar pak.”

“Nanti kamu, alpa. Memangnya kenapa nak?”

 

Dewi akhirnya bercerita tentang kegalauan hatinya. Diahir liburan, Lina bertanda ke rumahnya. Tetangganya itu bercerita tentang keceriaan semasa liburan. Situasi naik pesawat, berkeliling Kota Yogja, makan di Malioboro hingga pengalaman berkunjung di rumah pamannya. Kedatangannya bukan hanya membawa buah tangan namun berbagai foto kisah liburannya.

 

“Apa yang salah dari cerita itu nak?”

“Saya sedih pak guru.”

“Sedih? Bukanya kamu kebagian oleh-oleh?”

“Bukan begitu pak.”

“Lantas?”

 

Kina sudah lima tahun menceritakan kisah berbedanya. Setiap liburan tempatnya tidak sama. Dewi merasa ada yang tidak adil dalam hidupnya. Lahir dari keluarga sangat sederhana yang berbeda jauh dengan Lina. Tetangganya itu memiliki kehidupan yang lebih dari berkecukupan.

 

“Berarti kamu itu tidak senang.”

“Bukan iri pak.”

“Nah, kamu yang bilang itu ya? Bukan Pak Guru.”

“Wah, maaf pak.”

 

Dewi bertetangga dengan Lina. Tempat disamping kanan rumahnya berdiri kokoh bangunan berlantai tiga. Itulah rumah Lina yang bersebelahan dengan gubuk kecil tepat di samping pagarnya. Dewi memiliki seorang adik laki-laki. Ayahnya bekerja sebagai satpam di kantor ayahnya Lina. Ibunya pedagang sayur keliling. Begitulah yang terungkap dalam cerita siang itu.

 

“Apa sih yang pikirkan nak?”

“Bapak ingin tau ya?”

“Bisa jadi, Pak Guru memberi jalan keluar.”

“Tapi, bapak bisa janji?”

“Tidak cerita sama temanmu?”

“Iya pak.”

“Oke.”

 

Dewi ingin seperti Lina. Bisa liburan sehingga punya cerita saat masuk masuk sekolah. Sadar akan keadaannya, membuatnya bersedih hati. Seharusnya Lina tidak usah datang kerumah bercerita tentang kegembiraannya saat berlibur. Namun Dewi tidak bisa menolaknya. Begitulah ungkapan bintang kelas VIII sambil menyeka keringat dan air matanya.

 

Terdiam lama lalu beranjak dari tempat duduk tanpa berbicara sepatah katapun dengannya. Langkah kaki dipercepat. Setelah masuk ruangan,  pintu pun dirapatkan. Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.

 

“Masuk!” Hampir bersamaan dengan  suara grendel dan engsel yang nyaring.

“Pak, saya mau minta maaf.”

“Memangnya kamu salah apa nak?”

“Bapak mungkin marah ya.”

“Mengapa kamu berpikir begitu?”

“Pak guru langsung pergi.”

“Oh, begitu…! Duduklah dulu.”

 

Saya menarik laci meja lalu menyerahkan sebuah amplop tebal kepadanya.

 

“Apa ini pak?”

“Nanti kamu baca baik-baik ya!”

 

Setelah tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Wajah anak itu terlihat memerah. Keringatnya bertambah banyak. Terlihat tangannya gemetar saat mengambil pemberian tiba-tiba itu.

 

“Ini surat panggilan orang tua pak?”

“Bukan. Kamu harus janji. Nanti dirumah baru kamu membukanya.”

 

*

 

Keesokan harinya, terlihat sesosok siswa perempuan berdiri di depan pintu kesiswaan. Setelah dekat, barulah nampak wujudnya secara jelas.

 

“Dewi?”

“Iya pak. Saya ijin menghadap.”

“Ayo, masuk!”

 

Wajah peringanya kembali terlihat. Dia mulai menjelaskan keinginannya untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional itu. Perempuan sederhana itu meminta untuk dibimbing hingga proyek yang direncanakannya. Tidak lupa mencium tangan untuk pamit dari ruangan.

 

Hari selanjutnya menjadi kesibukan yang tinggi. Memilihnya untuk mengikuti lomba menjadikan pekerjaan kian bertambah. Tetapi ada kebahagiaan tersendiri dalam berkolaborasi dengannya. Kejeniusannya dalam menerima saran dan arahan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.

 

Dua bulan telah berlalu. Laporan yang dibuat tinggal menyisahkan kegiatan finishing. Setelah menjilid dan membeli amplop besar untuk pengemasan, kami pun berbincang singkat.

 

“Nah, ini sudah kelar semua. Tinggal pengiriman di kantor pos.”

“Saya punya permintaan pak.”

“Asal jangan yang aneh-aneh saja.”

“Jika biasa, saya ingin membawa laporan ini ke rumah sebelum dikirim.”

“Untuk apa nak. Kalau hilang atau rusak bagaimana?”

“Saya janji pak, akan menjaganya.”

 

Melihat wajahnya yang serius, hati pun luluh. Kegirangan kembali terlihat. Anak itu berjalan sambil berlari kecil dengan lagu yang hampir tidak terdengar.

 

*

 

Keesokan harinya…

“Ini pak, laporannya.”

“Memangnya untuk apa barang ini dibawa pulang?”

 

Keinginannya yang kuat untuk mengikuti lomba sangat kuat. Karya itu diperlihatkan pada kedua orang tuanya. Meminta ibunya mendoakan untuk keberhasilannya. Kala tidur, laporan itu disimpan dibawah bantal. Ingin rasanya, Allah mengirimkan pesan dalam mimpinya.

 

“Ilham apa yang kamu dapat dalam tidurmu nak?”

“Susah untuk diungkapkan pak.”

“Apakah itu sebuah rahasia?”

“Bisa jadi pak.”

“hem…”

 

Laju motor yang kami tumpangi, akhirnya tiba di pusat pengiriman barang. Anehnya, anak itu belum pernah berkunjung di tempat itu. Gadis remaja rumahan hanya tahu jalan pergi dan pulang sekolah. Selain menuliskan alamat pengiriman, saya menyuruhnya untuk mengirimkan sendiri karya itu. Dipeluknya palop coklat itu sebelum diserahkan pada petugas pos. Sebelum melangkah keluar, lengan baju terasa ditarik dengan kencang. Permintaan lain akhirnya diutarakannya.

 

“Apakah bapak tidak keberatan, saya ingin makan pisang ijo di pinggir pantai.”

Sambil terdiam sejenak, saya pun mengangguk.

“Tenang saja pak, saya yang traktir.”

“Memangnya kamu punya uang?”

“Iya pak, saya memecahkan celengan kelinci yang telah penuh.”

“Hanya untuk traktir bapak?”

“Wah…”

 

Saya terharu dengan kejadian itu. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, kami pun tiba di kedai pisang ijo. Menghadap ke arah pantai membuat suasana menjadi berbeda. Makanan yang dipesan tidak lagi dihiraukannya. Hanya sesekali sendoknya difungsikan. Tatapannya banyak diarahkan ke lautan lepas.

 

“Kamu belum pernah ke sini ya?”

“Belum pak.”

“Kenapa?”

“Terlalu sibuk mungkin.”

 

Saya tidak dapat menahan tawa. Rupanya gadis kecil ini belum pernah diajak jalan sejauh ini. Malam minggu saja sibuk membantu ibunya menyiapkan jualan untuk esok harinya. Begitulah pengakuannya saat jalan pulang menuju sekolah.

 

*

 

Sebulan telah berlalu. Lomba itu hampir hilang dalam ingatan. Tiba-tiba, Pak Pos datang disiang hari. Saat semua hendak pulang, sebuah surat diterima tepat didepan pintu gerbang. Melihat pengirimnya, firasat baik muncul seketika dalam pikiran. Tanpa berpikir panjang, saya mencari sosok Dewi dari tempat ketinggian. Tetapi firasat itu bukan hanya saya yang rasakan. Gadis lincah itu tiba-tiba muncul didepanku.

 

“Bapak mencari saya?”

“Siapa yang beritahumu, nak?”

“Hanya tanya saja pak…he…he.”

 

Surat yang masih tersampul rapi itu dimasukan dalam tas gadis itu.

 

“Nak, amplop ini dibuka setelah tiba di rumah.”

“Memangnya kenapa pak?”

“Pulanglah nak.! Hati-hati di jalan ya.”

 

Belum masuk di pagar rumah. Anak itu sudah muncul di depan jalan. Wajahnya terlihat sedikit sedih. Matanya berkaca-kaca. Ketika motor tuaku terparkir, gadis itu datang langsung meraih tangan lalu menciumnya.

 

“Terimakasih pak guru. Mimpi segera terkabulkan.”

“Memangnya kamu mimpi apa nak?”

“Mimpi terbang dengan pesawat yang berbeda-beda.”

“Lantas?”

“Surat ini adalah panggilan mengikuti lomba di Jakarta pak.”

 

Setelah makan siang. Kami membahas apa yang harus dilakukan untuk persiapan keberangkatan. Sesuai isi surat, guru pendamping ikut serta dalam kegiatan itu. Orang tuanya turut memberikan saran dalam pembicaraan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...