Sabtu, 20 April 2024

MELUKIS JEMBATAN PENSIL DI BUMI RINDANG


 

MELUKIS JEMBATAN PENSIL DI BUMI RINDANG

 

Julukan sekolah “ubi” sejak tahun 2004 mulai pudar ketika putra dan putri sekolah ini mulai “berani” merubahnya. Mimpi itu menjadi kenyataan. “Rumah Pendidikan”  di tapal batas Kadia dan Puuwatu ini telah menjadi tempat bernaung selama dua dekade. Bagaimana upaya yang telah dilakukan?

 

Sekolah ramah anak ini telah dijabat oleh lima Kepala Sekolah dengan masa jabatan yang berbeda. Namun lukisan sejarah ini hanya mengambil satu sudut pandang yang mungkin tidak kasat mata. Membuat rupa literasi dalam merubah diri dan merakit anggapan dalam menatanya menjadi kegiatan numerasi yang lebih bermakna.

 

Tiga ruang kelas menjadi fenomena tersendiri ketika datang di sekolah ini. Juli 2004 bertandang, ketika Oktober menjadi resmi berpindah status. Siswa yang belum banyak itu bukan masalah bagiku. Memulai keakraban dengan mengajarkan muatan lokal pertamanan dan pertanian holtikultura. Buku pertama di sekolah ini pun lahir untuk menopang pembelajaran tersebut. Keinginan menulis beranjak dalam kemunitas kecil di setiap ruang kelas. Keseriusan siswa itu membuahkan hasil. Piala pertama di sekolah ini diperoleh dari penelitian sederhana siswa tentang dampak miras bagi remaja.

 

Lingkungan pengaruhnya tidak luas. Mengajar dan belajar menjadi tehnik yang digunakan. Berstatus guru sains tentu sangat jauh berbeda dengan sarjana bahasa dan sastra. Sedikit waktu yang tersisa menjadi tantangannya. Namun menyandang urusan kesiswaan memberikan kesempatan berbeda. Keakraban itu menjadi peluang yang baik. Satu demi satu piala maupun penghargaan diraih melalui senyuman dan jerih payahnya. Cerita tiga piala di tingkat provinsi menjadi kisah unik ditahun 2008. Karya ilmiah lingkungan hidup yang dibuat, mendapat apresiasi sebagai peringkat satu, dua dan ketiga.

 

Tahun 2010 – 2020 menjadi masa keemasan bagi komunitas siswa menulis. Setelah beberapa kali menjadi finalis di Tingkat nasional, akhirnya kelompok karya tulis ilmiah remaja mendapatkan berkah yang besar dari Sang Pencipta. Dua medali emas dilevel nasional bisa diraih dalam bidang sains dan lingkungan. Salah satu karya siswa mendapatkan kesempatan bersanding dengan 24 negara di konferensi dunia bidang lingkungan. Hal itu mendapatkan dukungan dari pemerintah kota dan lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan hidup Indonesia.

 

Rejeki dari Allah itu juga diperoleh salah satu siswa. Seorang perempuan periang, berhasil lolos dan mengikuti kegiatan pada event Singapore-Indonesia Student Friendship Adventure. Kesempatan ini diperolehnya setelah berhasil meraih peringkat pertama dalam karya tulis nasional tahun 2010. Remaja ini menjadi siswa pertama di sekolah yang diutus keluar negeri. Tim buletin seventeen juga berhasil masuk dalam finalis lomba jurnaslitik remaja tingkat nasional. Mereka menjadi finalis pertama di Sultra yang berhasil mencapai level tersebut.

 

Kegiatan komunitas kecil dikelas ini, menjadi salah satu bagian pencapaian sekolah berkeunggulan berwawasan lingkungan hidup, sekolah sehat dan sekolah adiwiyata. Tentu ini bukan kerja orang per orang. Bahu membahu seluruh warga sekolah telah membawa bumi rindang menyandang sekolah adiwiyata pertama di Sultra untuk Tingkat SMP. Menjabat sebagai ketua tim saat itu, menjadi berkah dan pengalaman tersendiri yang susah terlupakan.

 

Semangat yang tinggi itu melahirkan ide untuk jumpa alumni. Komunitas yang ada merancang reuni akbar untuk pertama kalinya. Tahun 2014 merupakan satu dekade sekolah ini berdiri. Menjadi koordinator memang sangat melelahkan. Penyakit yang menerpa saat itu belum sepenuhnya pulih. Keterbatasan yang ada membuat tim harus berpikir keras merancang kegiatan yang lebih efisien. Pentas seni, jalan santai, kegiatan sosial dan gelar karya menjadi ragam kegiatannya. Momen yang berkesan dari perjalanan menjadi kesiswaan waktu itu.

 

Selanjutnya, Masa-masa itu bagai “dunia terbalik” bagiku. Topik ini menjadi judul buku tunggal yang diterbitkan. Walaupun kebersamaan dengan siswa itu telah mengantarkan berkah lain dari Illahi Rabbi dan hasilnya menjadi juara lomba keberhasilan guru nasional. Namun tidak cukup untuk keluar dari masalah.

 

Ada sesuatu diluar dugaan terjadi. Ujiannya datang silih berganti. Perjuangan karier di tiga sekolah pada tiga kecamatan berbeda dijalani mulai 2015. Hal itu karena dana tunjangan sertifikasi. Keberadaannya sangat penting dalam menompang kebutuhan keluarga. Kini, mengajar menjadi lebih utama dari jabatan yang diemban. Sisa semangat menjadi tenaga yang dibutuhkan.

 

Mengantarkan takdir Allah bagi rumah kedua ditingkat nasional menjadi pilihan. Tujuannya agar ruang kelas untuk mengajar tetap tersedia. Mengantar rezeki Allah melalui bantuan dari kemampuan kecil yang dimiliki. Akhirnya beberapa warga sekolah kedua menginjak level nasional melalui kegiatan literasi dan numerasi yang dilakukan. Hanya itu cara yang dipilih untuk menjaga opini yang berkembang.

 

Mengumpulkan kekuatan yang tersisa menjadi upaya yang dilakukan saat senggang. Akhirnya, lima buku antologi di rumah pertama berhasil terbit. Komunitas menulis seventeen berkiprah dengan baik pada tahun 2017-2019. Buletin cetak seventeen mulai terbit berkala secara swadaya. Ini menjadi cara untuk menjaga karya tetap berjalan.

 

Menata diri menjadi penting untuk penepis anggapan yang tidak nyaman didengar. Cerita berpindah tempat hingga ungkapan samar di berbagai suasana mulai mengganggu hati dalam mengajar. Ketika kawan tidak lagi menjadi sahabat maka keluarga menjadi tempat bersandar. Semua itu telah tersirat dalam “keringat di pelupuk mata” Buku tunggal keempat yang ditulis pada tahun 2019.

 

Buku itu mengisahkan cara keluar dari kabut malam yang pekat. Mengajarkan bahwa menulis menjadi salah satu cara untuk menjemput takdir baik. Setelah beberapa kejuaran yang diraih dengan beragam level, Allah menganugerahkan Excelent Teachers dan Lancana Pendidikan dari negara. Peran komunitas menulis seventeen sangat kental dalam tangga sukses itu. Peran keluarga  dan peserta didik sangat berarti dalam meraihnya.

 

Sesuai bincang singkat dengan rekan dan pengamat, ada keunggulan “Bekal Terasi” dalam Lomba Inovasi Pembelajaran Nasional tahun 2018. Salah satunya adalah peran siswa dalam berdiferensiasi untuk belajar. Buku antologi mereka, memuat cerita pengalaman belajarnya. Sisi baik berkawan dengan peserta didik telah menemukan takdirnya. Menyandang berkah terbaik menjadi penghibur diri dari Allah untuk kehidupan yang rumit saat itu. Khususnya bagi “kelinci di padang sayur” Ladang yang telah mengantarkannya melangkah di empat negara yang berbeda.

 

Kini bulletin dalam komunitas menulis telah berubah wajah. Digitalisasi menjadi arah pengembangannya. Mengajak alumni mengambil peran, melatih sebisanya, menyiapkan wadah diferensiasinya dan menerbitkannya dalam edisi bulanan menjadi upaya yang dilakukan saat ini. Besar harapan untuk memberikan kesinambungan yang simultan untuk karya ini. Perwajahan ini terpilih menjadi topik presentase akhir dalam gelar karya guru penggerak angkatan lima tahun 2021.

 

Sejarahnya sangat berarti dalam menjembatani anak didik dalam berkarya. Bukan hanya siswa dan guru, bahkan sekolah akan terlukis indah jika ditata dengan baik. Usia dan keadaan menjadi tantangan peremajaannya. Namun upaya kecil terus dilakukan agar jembatan ini tetap kokoh untuk diseberangi. Sadar diri memang jalan terbaik. Memaknai bahan yang dipakai tidak bermutu baik. Menggores dan membentuk motif dengan pensil akan berbeda dengan cat minyak diatas kanvas. Gambar pensil dilembaran kertas mudah dihapus, hilang lalu terlupakan.

 

Langkah tidak mungkin terhenti. Jaman terus berkembang. Menuntun kaki yang berjalan untuk mengejar yang berlari menjadi pilihan. Agar diri tidak diam terpaku. Mengajak siswa menulis dan membuat video dilakukan dalam pembelajaran maupun proyek P5. Saat Sebagian warga sekolah belum familiar dengan yuotube, jejak “seventeen” telah mulai dipublish. Lagu mars sekolah, bahan ajar dan film dokumenter siswa mulai bertebaran di dunia maya. Ada dua gelar video pembelajaran yang dibuat dan menemukan takdirnya. Keduanya menjadi karya terbaik dalam festival ditingkat nasional.

 

Kumpulan karya itu telah menjembatani pemilihan narasumber praktik baik dilevel provinsi. Duduk diposisi pertama mewakili karya siswa dan diri sendiri di platform merdeka mengajar bukan tanpa kritik. Inilah sedikit upaya untuk karya dan baktiku dihamparan ladang sawah, tempat benih padi yang ditanam. Dokumentasi itu telah dimuat dalam banyak edisi bulletin digital seventeen.

 

Selamat hari jadi SMPN 17 Kendari yang ke-XX. Semoga jaya dan selalu menjadi tempat nyaman untuk belajar dan bekerja dalam mencari berkah Illahi Rabbi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...