
Pekerjaan
dua malam hari ini akan ditampilkan. Setelah salat subuh, saya membereskan file
yang akan diaploud ke google drive. Memudahkan peserta bisa mengaksesnya
menjadi tujuannya. Namun kelengkapan kegiatan belum sepenuhnya ada. Saya harus
mencari in focus yang support dengan laptop yang akan digunakan.
Wah, aktivitas pagi ini memang sangat padat.
Mengajak
istri mengantarkan di tempat kegiatan menjadi solusi agar sekali mendayung dua
atau tiga pulau bisa terlampaui. Hari ini mantan pacar saya akan membagikan
laporan pendidikan yang tertunda. Ke sekolah bukan hanya mengambil in focus
tetapi sekalian membawa raport, melakukan absen elektronik dan mengecek
kemampuan laptop untuk presentase.
Mendung
dan sedikit rintik pada sebagian rute perjalanan membuat laju motor agar
kencang dari biasanya. Tentunya saja jalan utama telah ramai. Saat ini telah
menunjukan pukul 08.15 Wita. Peserta sudah terlihat lebih dari setengah
kapasitas ruang. Pelaksanaanya hanya mengunakan salah satu ruangan di “Gedung
Guru.” Ini adalah tempat kegiatan yang dipilih panitia. Untung pun menjadi berkah.
Pejabat yang ditunggu belum juga tiba, berarti ada waktu untuk bersiap diri.
Sesuai jadwal, saya adalah pemateri pertama hari ini. Membantu mamasang in
focus serta layar latar pembuatan liputan video dilakukan bersama rekan
pemateri lain.
Hari
ini saya ditemani Ibu Riskawati, sosok guru berprestasi dari Kabupaten Konawe.
Peserta workshop ini sangat beragam. Bukan hanya jenjang sekolahnya tetapi asal
mereka dari beberapa pelosok Sulawesi Tenggara. Menyimak daftar hadir yang
beredar, Kabupaten Konawe memiliki peserta terbanyak. Ada pula dari Wakatobi,
Konawe Selatan, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Kota Kendari dan Konawe Utara.
Seperti halnya saya, mereka pun datang dengan peralatan yang telah siap. Bukan
hanya handphone, namun laptop, kabel hingga alat pengambilan gambar
terlihat disamping mejanya.
Ruang
yang nyaman membuat saya terlupa sejenak jika waktu telah melewati pukul 09.00
Wita. Sekum PGRI Sultra akhirnya mengambil inisiatif untuk membuka kegiatan.
Suasana ini telah lama terjadi. Bukan hanya persoalan wabah Corona yang menjadi
alasan. Kesempatan besar seperti ini sudah langka dialami. Duduk bersama
pemateri hebat dan pejabat membuat hati sangat terharu. Saya menyimak sambil
banyak merenung. Masih ada juga rupanya yang mau memanggil sosok sederhana dan
sedikit pengalaman seperti saya untuk berbagai di forum yang besar.
Setelah
pembukaan, rupanya ada pergeseran jadwal. Ada materi umum dari pihak PGRI, ini penting
untuk disampaikan. Penyampaian yang kocak dan bersahabat membuat kami semua
terkesima. Namun waktu tidak bisa berhenti. Saya memperlihatkan penanda waktu
pada Ibu Riska. Wah, sudah pukul 10.45 rupanya. Begitulah tanggapannya. Itu
artinya hanya menyisahkan satu jam lebih untuk membawakan materi yang sangat
padat. Saya pun mulai membuka laptop dan menyeleksi kembali hal-hal yang akan
dihilangkan. Mencari komponen penting dan sangat perlu. Memakan waktu lima
belas menit untuk menunggu maju ke depan. Sedikit persiapan membuat waktu
tampil tinggal 50 menit untuk tiba di waktu salat zuhur.
Antusias
peserta yang luar biasa membuatku bersemangat. Tampilan paparan sengaja dibuat
dalam bentuk “gif.” Tujuannya agar peserta tidak menulis dan hanya focus
terhadap penyampaian materi. Ini penting, karena setelahnya ada praktek
pengambilan gambar dan pemanfaatan aplikasi filmora untuk perakitan. Menyiasati
waktu yang ada, pengambilan gambar dilakukan saat kegiatan paparan berlangsung.
Terdapat 20 trik yang disampaikan sebagai modal dalam menata video pembelajaran
lebih menarik. Ini semua adalah pengalaman saat mengikuti lomba, diskusi dengan
tim juri, workshop dari kementerian dan kebiasaan yang dilakukan selama ini.
Tidak disangka banyak pertanyaan dan tanggapan yang muncul. Hal ini makin
terlihat ketika pemanfaatan filmora mulai dilakukan.
Pembawaan
yang kocak, santai dan tampilan paparan yang tidak monoton membuat peserta
terlihat focus. Ini adalah kebahagiaan yang luar biasa buat saya. Telah lama
saya berdiri dipodium yang sebesar ini. Kesempatan itu memang langka diperoleh.
Kadang sekali untuk beberapa bulan. Itulah mengapa persiapan yang dilakukan
menentukan gaya saat penyapaiannya. Saya juga bersyukur, kegiatan pelatihan
Calon Guru Penggerak (CGP) dihentikan sementara. Saya pun bisa sedikit focus
dan ada waktu yang agak luang untuk menyiapkan materi ini.
Waktu
yang tidak lama memang tidak memungkinkan penyampaian secara maksimal. Terlihat
banyak yang masih menyimpan penasarannya. Ada yang berkeinginan untuk memanggil
lagi dengan pelatihan yang sama. Saya pun hanya bisa bertutur, jika grup
virtual bisa digunakan untuk diskusi. Berat hati, saya pun menutup pemaparan
pembuatan video “menari semu” dengan kisah pelangi dalam memotivasi diri dan
ungkapan Bapak Habibi tentang kesungguhan dan keikhlasan dalam bekerja.
Kehadiran
ketua umum PGRI di ruang pelatihan membuat saya merasa senang. Rupanya ada
perhatian yang tinggi terhadap kegiatan ini. Saya maklum kesibukannya tidak
seperti guru biasa. Itulah mengapa kehadirannya baru bisa terlihat siang ini.
Keharuan itu berlanjut, ketika Ibu Riska membuat Quizizz bagi peserta diakhir
paparannya. Hadianya adalah buku “Keringat di Pelupuk Mata.” Buku yang sengaja
di bawa sebagai oleh-oleh bagi peserta. Namun jumlahnya hanya sebuah saja.
Olehnya itu ada kompetisi untuk bisa memilikinya. Setelah usai, seorang guru
wanita dari konawe berhasil menempati peringkat pertama. Ibu Endang berhak
memiliki buku ini. Tetapi rupanya tidak semudah itu. Ketua umum, mengiinginkan
saya untuk mau menandatanganinya. Awalnya saya tidak menolaknya, namun
permintaan selanjutnya membuat saya terdiam sejenak.
Saya
diberikan kesempatan, untuk menyampaikan beberapa hal tentang buku ini. Itulah
ungkapan yang berat dipikirkan. Sedikit sesak terasa didada. Saya pun menghela
napas panjang beberapa kali sebelum mengambil mik dari tangannya. Ini
memang berat, isinya begitu memilukan hati. Menulis semua itu sebenarnya untuk
menumpahkan segala yang dirasa agar bisa berlega hati. Tapi ini mendapat
sambutan yang luar biasa.
“Ini
adalah kisah saya menjadi guru. Bergelut dengan sekolah sejak berdiri hingga
torehan beberapa prestasi yang diraih. Buku ini saya tulis ketika saya tidak
bisa lagi menagis. Itulah judulnya keringat dipelupuk mata. Harapanya, semoga
orang yang membacanya terinspirasi. Apa yang saya buat adalah jalan hidup yang
telah saya lalui.”
Begitulah
ungkapan singkat yang bisa saya utarakan saat itu. Buku pun saya serahkan
kepada Ketua Umum PGRI Sultra untuk diserahkan pada Ibu Endang sebagai pemenang
kuis hari ini. Sang Ketua, rupanya ingin juga membacanya. Beliau ingin
membelinya namun saya menolaknya. Buku ini memang beredar terbatas untuk saat
ini. Saya hanya ingin berbegi pada orang lain. Saya pun berjanji, jika besok
saya akan membawakannya di tempat kegiatan. Workshop ini berlangsung dua hari
yakni Senin dan Selasa (27-28 Juni 2022). Menjelang pulang, kami pun berfoto
bersama untuk dokumentasi kegiatan hari ini.
Direncanakan
keesokan harinya akan dilanjutlan pembuatan video pembelajaran dengan
menggunakan aplikasi. Sebelum hal tersebut dilakukan ada pencerahan tentang teknik
pengambilan gambar, editing dan pasca produksi dari salah satu media nasional.
Tujuannya, agar peserta dapat menghasilkan karya sendiri dalam pelatihan ini.
Tentunya, produk yang diinginkan oleh penyelenggara adalah video pembelajaran
yang apik dan dapat dimanfaatkan di ruang kelas saat mengejar.
Berdasarkan
data dari panitia yang tersebar di WhatsApp terlihat pesertanya sangat beragam
jenjang. Peserta yang dinyatakan berhasil mengikuti yakni :
1.
Hj. Sri Wahyuni, S.Pd. / SMPN 10 Kendari
2.
Endang Sri Wahyuni, S.Pd. / SMPN 2 Tongauna
3.
Juhriatin, S.Pd. / SMPN 1 Unaaha
4.
Misrawati, S.Kom. / SMPN 8 Konawe Selatan
5.
Kamria, S.Pd., M.Si. / SMAN 1 Lasolo
6.
Ratno Lapaleso, S.Pd. / SMPN 8 Konawe Selatan
7.
Muliani, S.Pd. / SDN 5 Moramo
8.
Yanti Mulyawati, S.S, Gr / SMPN 8 Konawe Selatan
9.
Evi Darwanti, S.Pd., M.Pd. / SMPN 2 Unaaha
10.
Herniati, S.Pd. SD / SDN 1 Asinua
11.
Rima Septiani, S.Pd / SDN Laikasorume
12.
Harniwati, S.Pd. / SMPN 1 Tongauna
13.
Jumiatin, S.Pd. / SMPN 2 Tongauna
14.
Mandar, S.Pd. / SMPN 8 Kendari
15.
Asriyanti Hasan, S.Pd. / SMPN 8 Kendari
16.
Sitti Herland, S.Sos.I / SDIT Al Muttaqin
17.
Bella Sari, S.Pd. / SMPN 1 PONDIDAHA
18.
Suarni, S.Pd. / SDN 1 Wawotobi
19.
Elly Triana Sari Bian, S.Pd., M.Pd. / SDN 52 Kendari
20.
Sahidin / SMPN 10 Kendari
21.
Lili Suharti A, S.Pd. / SMPN 8 Kendari
22.
Irmawati D. Ahmad, S.Pd., M.Pd. / SMPN 1 Gorontalo
23.
Rusdiah, S.Pd., M.Pd. / SMPN 1 Lambuya
24.
Wa Ode Hidayake, S.Pd. SD / SDN 6 Katobu
25.
Aris / SDN 3 Ladongi
26.
Salasia, S.Pd. / SMPN 1 Sawa
27.
Sri Reski, S.Pd.I., M.Pd / SMPN 1 Sawa
28.
Fitrian Rahayany L, S.Pd. / SMPN 1 Sawa
29.
Neli, S.Pd. / SMPN 1 Sawa
30.
La Ode Madudi, S.Pd. / SMPN 1 Soropia
31.
Wawan, S.Pd., M.Pd. / SMPN 3 Abuki
32.
Habil, S.Pd., M.Pd. / SDN Lalosabila
33.
Jumasran, S.Pd. / SMPN 1 Abuki
34.
Sarapina Yosema, S.Pd. / SMPN 29 Konawe Selatan
35.
Ardiman, S.Pd. / SMPN 1 Sampara
36.
Nursamsiah, S.Pd / SMPN 1 Sampara
37.
Muh. Samsir Abd. Samad. S. Mat / SMPN 1 Lalolae
38.
Musran Suleman, M.Pd. / SMPN 1 Lalolae
39.
Fatmawati S, S.Pd. / SDN 7 Kendari
40.
Normayanti, S.Pd. / SDN 57 Kendari
41.
Hj. Hasmah, S.Pd.,M.Pd. / SMPN 20 Kendari
42.
Marham, S.Pd. / SDN 1 Lana
43.
Eka Nurhayati Safiuddin, S.Kom. / SMPN 3 Kendari
44.
Rizki Warda Ayu, S.Pd. / SMP Satap N Mantigola
45.
Alidun, S.Pd. / SMPN 1 Uepai
46.
Aditian Yudiantara, S.Pd., Gr. / SMPN 2 Sampara
47.
Hilda Awaliyah, S.Pd. / SMPN 3 Tirawuta
48.
Sahbin Barqi, S.Pd. / SMPN 1 Sawa
49.
Anlianna,S.Pd.,M.Si /
50.
Farianti Nursatia, S.Pd. / SMPN 8 Kendari
51.
Supriatin, S.Pd / SMPN 8 Kendari
52.
Hasnely, S.Pd.
53.
Sasnita Safiuddin, S.Pd / SDIT Al Wahdah
PENCURI HATIKU SEORANG GURU
Hari masih pagi, perempuan itu
sudah berdandan. Setelah pamitan dia langsung memanaskan mesin motornya.
“Wah, jam berapa sekarang?”
“Tujuh lewat.” Kataku.
“Waduh sudah terlambat.”
“Memangnya mau kemana?”
“Ke sekolah.”
“Tidak isi raport?”
“Ada orang tua dan anak siswa
yang mau bertemu.”
Aku bingung melihat tingkahnya.
Sudah empat hari dia terlihat sibuk. Kadang kala untuk makan harus rela numpang
di warung. Tapi hari ini ada harapan. Belanjaannya sangat banyak. Semoga makan
siang hari ini, menunya spesial.
Pulang nampak buru-buru. Setelah
menyimpan tas, dia pun langsung menuju ke ruang kerjanya. Biasa, perempuan ini
memiliki ruang kerja dekat dengan meja kerjaku. Aku di ruang makan dia berada
di dapur.
Menyelesaikan materi yang akan
dibawakan saat pelatihan guru se-Sultra, lupa jika waktu hampir zuhur. Setelah salat,
aku menuju meja makan. Wah, menu spesialnya terlihat sial. Meja masih belum ada
piring atau segelas air. Tanpa berpikir panjang, aku membuka lemari makan dan
mengambil piring dan sendok. Membuka panci lalu menuangkan beberapa sendok nasi
putih dan sayur tumis kesukaanku. Melihatnya masih sibuk, aku pun duduk didekatnya.
“Bikin kue sebanyak ini untuk
apa?”
“Untuk besok.”
“Besok kan?”
“Iya, terima laport siswa.”
“Tapi…”
“Heran ya?”
“Bukanya ada uang kas kelas untuk
membeli konsumsinya.”
“Iya. Apa ini salah?”
Makanan di piring telah habis.
Aku langsung melangkah menuju tempat cuci piring. Setelah membereskan piring
yang digunakan, aku pun menemaninya menyelesaikan bungkusan lempernya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak ada, istirahat saja.”
Akupun mengelus kepala mantan
pacarku itu, lalu berlalu untuk menyelesaikan editing video untuk presentase
workshop guru. Namun setelah adzan asar, dia belum juga berpindah. Menatapnya masih
terlihat bahagia dengan pekerjaannya. Setelah berwudhu, berpamitan untuk ke
masjid. Merasa lelah, aku pun merebahkan diri di tempat tidur.
Betapa kagetnya, kini sudah
berganti menu kuenya. Apakah dia tidak merasa lelah? Tapi ini waktunya sempit
untuk bertanya. Secepatnya berwudhu kembali lalu menunaikan salat magrib yang
hampir masuk waktu isya. Mendekatinya saat membereskan barang yang berserakan
dan kotor menjadi penting saat ini.
“Sudah beres?”
“Alhamdulillah. Akhirnya selesai
juga.”
Namun percakapan itu tidak lama.
Waktu isya telah tiba. Setelah salat, aku pun mengamati kesibukannya lagi. Kini
dia tidak lagi di dapur. Setelah mengambil makan dari panci, aku pun duduk lagi
didekatnya. Mengamati menguatak-atik laporan pendidikan yang akan dibagi dan
dokumen lainnya menjadi menu istimewa makan malam kali ini. Sepertinya lelahnya
tidak nampak di wajahnya. Sesekali dia tersenyum. Ini bukti bahwa dirinya
biasa-biasa saja. Hatiku pun menggungkapkan sesuatu. Semoga ketulusan dan
keihklasannya menjadi jalan amal baginya.
Ingin sebenarnya aku menyampaikan
pada siswa perwaliannya. Begitu sayangnya terhadap mereka. Hanya tidak tahu
bagaimana caranya. Itulah mengapa siswa yang bermasalah di kelasnya tidak aku
perlakukan seperti kelas lainnya. Kadang dalam tidurnya pun mengigau tentang
mereka. Banyak perbincangan keluh kesahnya tentang masalah siswa. Malas,
bandel, baku bombe, tidak bertanggung jawab dengan tugas mapelnya. Cerita itu bukan
hanya menghiasi meja makan, diruang guru, ruang keluarga maupun dapur. Namun
sebelum tidur pun kadang masih meminta pendapat tentang mereka. Walapun saran
yang diberikan susah untuk dilakukan, dia pun berusaha menerimanya.
Tanpa memintanya, aku pun telah
mengiyakannya. Mungkin karena sering serasa. Siswa yang bermasalah dari kelasnya
diserahkan padanya untuk diselesaikan. Kelas lain malah harus melalui
konsultasi orang tua. Aku begitu kasian jika memberatkan pikirannya lagi. Begitulah
salah satu cara untuk tetap menyenangkan hatinya.
Begitulah rasa sayangnya pada
siswanya yang hampir saja menyamai kasihnya pada mantan pacarnya dahulu. Kini
hatinya agak senang, besok anak-anaknya akan menerima laporan pendidikan tanpa
ada yang terganjal dengan hal berat. Pernah suatu saat aku sangat dekat ketika
dia salat. Walaupun merdunya setengah berbisik, namun jelas terdengar
titipannya pada Illahi. Ringankan tugasku dalam bekerja ya Allah. Mudahkan anak-anakku
dan siswaku untuk belajar, jauhkan mereka dari masalah sekolah yang rumit dan
jadikanlah mereka menjadi manusia sukses dikemudian hari.
Jika seandainya, bisa aku
ceritakan lebih banyak pada siswanya tentu mereka tidak akan bandel saat
bersekolah. Namun waktu dan caranya aku tidak ketahui. Semoga mereka tetap
sayang pada wali kelasnya. Tidak melupakan jasa guru-gurnya. Ingat pesan dan
contoh perilaku baik yang diberikan. Selalu menanamkan nilai karakter baik
dalam kehidupannya. Aku mau, mereka paham jika wali kelasnya menasihati atau
memarahinya. Itu karena rasa sayangnya yang begitu besar. Maafkan telah berani
mengirim surat cinta ini. Semoga yang membacanya bisa memahami perasaan bekas
pacarku yang menyayangiku. Bahwa sebenarnya dia beguitu perhatian pada kalian
semua. Selamat menempuh kenaikan kelas. Prestasi nilai terbaik tidak ada
artinya, itu adalah takdir dan kadar Allah yang tidak sama terhadap rezeki
mahluknya. Perilaku dan hati yang baik adalah kemenangan yang nyata. Itu akan
membawamu menjadi manusia mulya dan bersahaja.
Selamat menginjakkan kaki di
kelas 9. Level akhir dari sekolah menengah pertama. Tanda bahwa setahun lagi
akan memasuki dunia putih abu-abu. Tiga tahun kemudian akan menjadi mahasiswa. Empat
tahun kemudian akan mamsuki dunia kerja. Kalian akan tahu saat itu, nasihat dan
ajaran gurumu saat SMP menjadi nyata. Itu karena mereka duluan melalui jalan
hidupnya dari kalian. Oleh karena itu, hargai dan hormatilah orang tuamu. Berterimaksihlah
pada guru-gurumu.
Jalan hidup memiliki cerita
berbeda. Setiap orang tentu akan mengalami hal yang tidak serupa. Setiap momen
tentu ada cerita yang bisa dibagi. Begitu pula dengan kisah pembentukan IKA
(Ikatan Alumni SMPN 17 Kendari). Menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah
Kesiswaan waktu itu memang penuh dengan tantangan. Kadang kesibukan yang tinggi
membuat tugas itu hampir saja terabaikan. Bukan hanya persoalan siswa yang
diamahkan. Kegiatan sarana prasarana, kurikulum, pengembangan sekolah, hubungan
masyrakat menjadi tugas yang tidak tersurat. Inilah tantangan yang dihadapi
saat keinginan pembentukan IKA SMPN 17 Kendari akan dilakukan.
Tanpa disadari, keinginan itu
muncul saat sekolah berumur 10 tahun. Semenjak 15 April 2004, inilah reuni
pertama kali akan diadakan. Salah satu wadah untuk mengumpulkan mereka adalah
ikatan alumni. Prakarsa yang dilakukan oleh Turino Adi Putra dkk memang sangat
cemerlang. Walaupun waktu yang tidak panjang dan kesibukan mereka yang sangat tinggi
keinginan itu diwujudkan secara sederhana. Tanggapan sekolah yang terkendala
dana dan semangat yang tidak optimal dalam menghadapi banyak program sekolah
membuat pemikiran cemerlang mereka sedikit lambat untuk terwujud.
Bukan tanpa usaha, rapat pun
digelar beberapa kali. Mulai dari pertemuan kecil disekolah, kosultasi dan konsolidasi
hingga rapat-rapat dibeberapa tempat terus dilakukan. Bahkan lapangan ruang
terbuka hijau Taman Kota Walikota Kendari digunakan untuk memilih tempat yang
efisien. Begitulah sebagaian sejarah IKA SMPN 17 Kendari dibentuk. Kekuatan
administrasi kepengurusan waktu itu hanya untuk mensuksekan kegiatan reuni
akbar pertama. Walaupun belum terdaftar dalam akta notaris atau sejenisnya,
harapannya dikemudian hari dapat berguna. Minimal tidak menghilangkan jejak
sejarah yang telah durintis oleh Turino Adi Putra dkk. Keterlibatan mereka
sangat besar dalam perjalanan perkembangan sekolah saat itu. Inilah yang
menjadi catatan pentingnya.
Menghimpun alumni sejak Angkatan pertama
hingga Angkatan ketujuh bukanlah hal mudah saat itu. Kecanggihan teknologi
komunikasi belum sehabat saat ini. Fitur media sosial masih belum berkembang
seperti saat ini. SMS dan facbook masih menjadi andalan berkomunikasi. Langkah
itu dimulai komunitas ini sejak 2 Maret 2017. Inilah tonggak sejarah dalam
pembentukan IKA SMPN 17 Kendari. Boleh dikatakan ikatan alumni ini sudah ada
sejak waktu tersebut. Ada beberapa kegiatan pembuka yang dilakukan dalam sinergi
dengan pihak sekolah waktu itu. Pembenahan bersama lingkungan sekolah, bazar,
anjang sana ke panti asuhan, jalan santai hingga temu kangen dengan pengurus OSIS
Angkatan ke-9 SMPN 17 Kendari. Salah satu yang masih teringan adalah Jenly Osteming
dkk. Anak ini tersimpan dalam memori karena menjadi aktivitis jurnalistik
seventeen yang dibimbing. Beliau akhirnya bisa menembus finalis LKJS Tingkat
Nasional pada Tahun 2015 bersama kedua rekannya.
Kisah reuni akbar dan
terbentuknya IKA SMPN 17 Kendari telah dibubuhkan pada buku yang berjudul
Keringat di Pelupuk Mata (Inspirasi di Sekolah Ubi). Buku tunggal karangan sendiri
ini bernomor ISBN 978-623-256-493-8. Terbitan CV. Kanaka Media ini terdaftar
pada tahun 2021. Bukan hanya cerita ini saja, sejarah perkembangan sekolah
tersaji dalam buku biografi yang apik dengan cerita inspiratif. Walupun telah
dua kali pencetakan dan mulai tersebar luas di Sulawesi Tenggara, buku ini
belum juga dibeli secara khsusus oleh sekolah. Saya telah beberapa kali
mengajukanya namun belum kunjung terwujud. Semoga sejarah dan para alumni yang
terlibat dalam kisah ini tidak terlupakan.
Catatan kecilku hari ini,
mengingat sejarah agar tidak terkekang oleh waktu.
Walaupun berat untuk diingat dan susah menahan hati yang telah memudar.
Merujuk Surat Keputusan Pengurus PGRI Provinsi Sultra Nomor : 100.a/KEP/PROV/XXII/2022 tentang penetapan dewan juri lomba video pembelajaran...