Kamis, 14 Mei 2020
Rabu, 08 April 2020
BULETIN SEVENTEEN : CERITA INSPIRASIKU - Menuntut Ilmu di Negeri Orang
SEPENGGAL
KISAH DI NEGERI TIRAI BAMBU
“Tuntutlah
ilmu hingga ke negeri China.” Ungkapan itu, kini aku merasakannya. Berangkat
bersama para guru hebat Indonesia sebagai tamu negera selama tiga minggu.
Inilah pengalaman perdanaku berkunjung ke luar negeri. Pembekalan yang
dilakukan oleh pemerintah terasa kurang, akibat pengalamanku yang dangkal.
Walaupun paparan narasumber sangat meyakinkan, namun selalu masih banyak hal
yang terasa kurang. Namun ini, kesempatan emas. Itulah ungkapan yang selalu
menyemangati diri. Apalagi perjalanan ini tidak dilakukan seorang diri.
Naik
pesawat Singapore Airline menjadi
pengalaman pertamanya. Ini tidak seperti yang digunakan dalam perjalanan
Kendari-Jakarta. Berbadan besar, pelayanan kelas luar negeri serta pramugarinya
tidak lagi menggunakan Bahasa Indonesia. Transit di Bandara Changi membuat
jejak kaki dapat berbekas di tanah Singapura. Hampir 8 jam akhirnya pesawat
mendarat dengan selamat di Ibu Kota Negara China. Tempat yang selalu dijuluki
sebagai Negara Tirai Bambu.
Menjemput
mentari di Kota Bejing tidak terwujud. Suhu yang sangat dingin dengan langit
berkabut tebal, menyebabkan matahari enggan menampakkan dirinya. Seperti halnya
Singapura, aku baru menginjakkan kaki di negeri ini selama hidup. Rombongan
kali ini akan mengikuti Trainning bagi Excellent
Teachers. Kami ditempatkan di China
University Mining and Technology. Kampus itu terletak di Kota Jiangsu.
Jarak
Kota Bejing dan Jiangsu sangat jauh. Kami tidak menggunakan lagi transportasi
udara. Ini hal menakjubkan kedua saat itu. Rombongan menggunakan sejenis kereta
cepat. Kendaraan canggih yang bisa mencapai kecepatan 450 km/jam. Hari itu, aku
membuktikannya. Memang nyaris tidak mengalami goncangan berarti. Kereta seperti
ini belum ada di Indonesia saat itu.
Banyak
hal yang dilakukan disana. Mulai dari kuliah, kunjungan ke sekolah-sekolah
berteknologi tinggi, melihat koleksi di museum teknologi Ibu Negara. menelaah
pembelajaran dan kurikulum yang dipakai, studi ekowisata, studi budaya hingga
melihat pembelajaran STEM. Memang sangat melelahkan namun banyak pelajaran yang
bisa diambil. Walaupun tidak semua bisa diterapkan. Faktor kultur budaya,
ideologi dan teknologi menjadi penyebabnya.
Penggunaan
bahasa menjadi kendala yang besar. Bahasa cina menjadi alat berkomunikasi resmi
dalam negara. Tidak banyak yang bisa menggunakan Bahasa Inggris. Untung saja
aplikasi pada handphone bisa
mengatasinya. Ke toko atau keluar asrama harus mematikan baterei handphone terisi penuh. Seperti nyawa
kedua setelah diri. Itulah mengapa satu sama lain selalu saling mengingatkan.
Kadang
ada berita cuaca luar negeri yang menayangkan suhu hampir atau di bawah nol.
Saat itu, suasana itu aku rasakan. Tiga lapis baju masih terasa kurang untuk
menghangatkan badan. Ibu jari saja kadang susah menggenggam. Namun anehnya,
salju yang dinanti tidak juga turun. Menurut mereka, polusi yang tinggi menjadi
penyebabnya. Selama belajar di sana, hanya dua kali menemukan hujan. Airnya
sangat dingin dan angin yang bertiup hingga ke sum-sum. Itulah mengapa baju
hangat menjadi senjata penghalau hawa ekstrim itu.
Minggu
ke tiga merupakan waktu akhir kegiatan. Inilah hari-hari yang susah terlupakan.
Saat itu peralihan musim dingin ke semi. Bunga-bunga mulai bermekaran. Suasana
kota menjadi indah terlihat. Sungguh pemandangan yang jarang dilihat secara
langsung. Batang tanaman hanya mengeluarkan bunga yang nyaris tak berdaun.
Perjalanan
pulang juga berkesan. Rombongan menuju kembali Kota Beijing dengan kereta yang
sama. Namun bukan persoalan keretanya, tetapi kunjungan istimewanya. Kalian
pasti tahu bukan, keajaiban dunia yang ada di China? Semua diberi kesempatan
mendakinya dan berfoto bersama. Tembok itu sangat luas dan panjang. “Memang
wajar kalau ini sebuah kejaiban yang diberikan Sang Pencipta pada kemampuan manusia.”
Itulah yang aku pikirkan dalam hati.
Berkeliling
ibu kota negara memang melelahkan. Lapangan Tiananmen dan Istana Terlarang
menjadi destinasi berikutnya. Bangunan yang luas, hanya kurang seperempatnya
saja yang bisa ditelusuri. Hal itu dilakukan agar rumah produk batu giok dapat
dikunjungi. Namun aku memang tidak berniat membelinya. Batu alami yang telah
berukir dalam perhiasan itu, sangat mahal harganya. Banyak yang hanya mampu
berdetak kagum. Begitu tingginya kemampuan manusia dalam mengolah batu berharga
itu. Rombongan juga sempat mengunjungi Stadion Olahraga Sarang Burung.
Hal
yang tersulit disana adalah mencari kuliner halal dan tempat ibadah kaum
Muslim. Dihari jumat, harus melalui Sembilan stasiun pemberhentian bus untuk
bisa sampai di masjid terdekat. Begitu pula dengan warung muslim. Untung saja
pihak panitia tahu tempat-tempat yang dimaksud. Saat berjalan menuju bandara,
kami bertemu dengan guru-guru dari Negara Malaysia. Mereka juga singgah untuk
makan malam ditempat itu.
Semua
terlihat lelah saat masuk dalam pesawat. Penerbangan menuju Jakarta diisi
dengan tidur yang nyenyak. Masih tersisa dua hari lagi untuk bisa kembali ke kampung
halaman. Semua peserta harus menyetorkan laporan perjalanannya. Untung saja
saat di China, sedikit demi sedikit sudah dikerjakan. Waktu senggang yang
tersisa bisa digunakan untuk mencari buah tangan bagi sanak saudara.
Syukur
dipanjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, setelah memasuki rumah. Baru kali ini
mengikuti pelatihan selama sebulan dan tempatnya sangat jauh. Anugerah itu
berlimpah di bulan Februari hingga Maret tahun 2019. Inilah rezeki yang tidak
dapat ditakar dengan uang. Negara memberikan kepercayaan padaku untuk
mengikutinya. Sebuah penghargaan yang jarang diperoleh. Inilah perjalanan
perdana seorang guru SMPN 17 Kendari ke luar negeri dengan tugas dinas dari
negara.
Labels:
Buletin,
Kegiatanku
BULETIN SEVENTEEN : CERITA INSPIRASIKU - Cahaya dari Ruang Kelas Bagian 2
SEPENGGAL KISAH DI SEVENTEEN
Banyak cara mensyukuri
nikmat yang diberikan Illahi Rabbi. Salah satunya dengan jalan berbagai. Rezeki
dana tunjangan profesi membuka jalan untuk berihtiar. Berkah ini memang anugerah
bagiku. Banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan bersyukur bersama
siswa di sekolah. Menyisihkan sebahagian untuk berbahagia bersama. Walaupun
untuk meraihnya butuh perjuangan. Kadang butuh dua hingga tuga sekolah untuk
bisa mendapatkannya. Tapi itu kisah dilain hari.
Inilah kumpulan kisah
kami saat tertawa, bersitegang hingga menyeka tetesan keringat. Mereka adalah
sahabat terbaik, walaupun rentang umur kami terpaut jauh. Kurcaci kecil yang
penuh semangat meraih cita. Itulah, mengapa aku sebut para pahlawan kecilku.
Mereka adalah keluarga di bumi rindang. Sekolah yang kami anggap tempat
rekreasi. Segala ide maupun kreasi bisa dikembangkan. Itulah mengapa
siswa-siswa itu ku anggap sebagai padi dan ladangnya tanah seventeen. Jika
terpelihara baik, bulirnya akan bermanfaat bagi banyak orang.
Melihat semangat
mereka, akupun tak kuasa untuk turut berkorban. Bekerja tidak sebatas jam
kerja. Menyisihkan sedekah kecil untuk melihat senyuman bahagia, saat karya ini
lahir. Telah lama mereka menanti kerja kerasnya. Walaupun banyak kekurangan yang
aku miliki, namun aku tetap berupaya menjadi sandaran semua keluh kesah mereka.
inilah hasilnya, sebuah buku antologi yang memuat segala usaha yang telah
dilakukan.
Sudah tiga generasi,
padi ini terus dipelihara diladang yang sama. Aku kumpulkan mereka pada
komunitas menulis seventeen. Empat buah buku telah diterbitkan. Banyak yang
berubah. Namun hal positif terus digapai. Harapan kecilku, semoga lembagaku mau
menampung karya ini sebegai refernsi sekolah. Sudah dua musim, padi itu aku
yang menanamnya sendiri. Namun upaya ini aku tekadkan agar tak terhalang kabut,
berbuat sajalah, nanti jalan Allah yang menentukan.
Agar mereka semangat,
kuberi sesuatu untuk bulir padi terbaik. Aku cari recehan yang tersisa untuk
membeli cendramata. Walaupun kecil namun yang penting berkesan. Kelak ini akan
jadi benih padi yang unggul.
Inilah sepenggal kisah
mereka.
Mendesain adalah cara
belajar kami. Aspek kearifan local, salah satu acuannya. Inilah upaya
melestarikan budaya Sulawesi Tenggara. Keterampilan menjadi sorotan pembelajaran.
Olehnya itu pemanfaatan teknologi dan kreativitas sangat memegang peranan
penting. Berkerasi menurut nalar dan keinginan sendiri. Diskusi virtual, penjulan on line, desain melalui PicsArt,
teknik fotografi, editing, rangkaian
listrik statis hingga penggunaan laptop
ataupun aplikasi handphone merupakan
sebahagian pemanfaatan teknologi dalam belajar. Pembelajaran tidak hanya di
ruang kelas. Industri rumah tangga, pasar, lingkungan alam, ruang terbuka hijau
dan kebersamaan di keluarga menjadi alternatif yang menyenangkan. Memasak
dengan cinta di keluarga menjadi upaya menjalin kebersamaan dengan orang
tercinta. Programnya berupa sarapan pagi bersama di sekolah. Semua itu termuat
dalam kisah kecil mereka. Ada yang unik, lucu dan penuh cinta. Mungkin ini hal
yang biasa, tetapi bagi kami, adalah sesuatu yang berarti. Semua kami rangkai
di sebuah sekolah yang berjulukan “Seventeen.”
BULETIN SEVENTEEN : CERITA INSPIRASIKU - Cahaya dari Ruang Kelas Bagian 1
MERAJUT
BEKAL TERASI PRAKARYA DALAM LOMBA INOBEL GURU.
Mengajar
dijaman new memang penuh tantangan
yang berat. Apalagi guru seperti saya? Terlahir di era tujuh puluhan yang
jarang mendengar bunyi pesawat. Mesin ketik yang sangat mutahir saat itu, kini hampir
tidak berguna lagi. Telepon kabel, surat kabar dan radio mengalami nasib yang
sama. Kini banyak manusia bekerja pada jaringan dalam genggaman. Sungguh saya
telah berada di dunia yang berbeda.
Kecanggihan
teknologi seiring dengan perkembangan pembelajaran. Issu sentral yang sering
menggema adalah teknologi informasi, kearifan lokal, litereasi dan pendidikan
keluarga. Semua kegiatannya erat kaitannya kodrat hidup manusia, sebab
bergantung pada kebutuhan dan keadaan.
Saya
memilih istilah “mahluk sosial” untuk mengungkapnya. Saya berpikir, hubungan
antar manusia harus terus terjalin. Budaya pun jangan sampai tersingkirkan. Inilah
tantangan saya dalam pembelajaran di sekolah.
Awalnya,
cara berpikirnya sangat sederhana dan biasa saja. Tujuannya hanya ingin mengajarkan
prakarya dengan cara yang berbeda. Mencoba menggunakan lingkungan di luar kelas
sambil melibatkan kehidupan sosial para siswa. Namun hal itu, bukan tanpa
masalah.
Beberapa
kendala internal menjadi pertimbangan untuk menjawab tantangan itu. Tidak
tersedianya ruang keterampilan, alat dan bahan praktik yang minim serta
tuntutan kekinian pembelajaran merupakan tiga masalah yang mendasar. Kondisi
itu sangat nyata di sekolah. Saya pun harus bekerja ekstra untuk menutupi
kekurangan itu.
Saya
hanya mengungkapkan sepintas sebuah keinginan. Bagaimana mencari cara yang tepat? Menggabungkan
pemanfaatan kearifan lokal dan teknologi informasi akhirnya menjadi solusi yang
dipilih. Semua dikemas melalui media BEKAL TERASI. Dua kata itu merupakan akronim
dari berkearifan lokal dan teknologi informasi. Penerapannya melibatkan
kegiatan literasi dan keluarga. Strategi itulah yang mengantarkan rahmat Illahi
ke panggung lomba inovasi pembelajaran bagi guru SMP tingkat nasional tahun
2018. Usaha yang saya anggap sederhana ini membawa berkah yang tidak terduga.
Allah SWT menetapkan saya sebagai juara pertama melalui penilaian dewan juri.
Bagaimana
merajut pemanfaatan teknologi, kearifan lokal, literasi dan keluarga dalam
pembelajaran? Pertanyaan ini bisa terurai menjadi beberapa rumusan masalah. Apa
jenis teknologi informasi yang dimanfaatkan? Bagaimana memasukan kearifan lokal
dalam pembelajaran? Mengapa literasi menjadi langkah penting menilai
keterampilan? Mengapa keluarga harus terlibat dalam kegiatan siswa?
Saya
mengarahkan penelitian pada aspek keterampilan siswa. Walaupun dalam
pembelajaran, aspek pengetahuan tetap dilakukan penilaian. Fokus pengamatannya
pada kegiatan unjuk kerja, produk dan proyek. Memulainya dari rumah sendiri.
Kerajinan
khas, motif daerah, perabot hias berenergi listrik hingga olahan makanan
menjadi bahan untuk menggali permasalahan dalam balajar. Satu jenis produk yang
dibawa siswa, ruang kelas pun bisa menjadi pajangan display produk yang meriah.
Mungkin saja ini biasa, namun ada hal tidak biasa saat pembelajaran
berlangsung.
Sarapan
pagi bersama digagas saat memasuki aspek pengolahan. Makanannya bertajuk “menu
cinta di keluarga.” Setiap olahan merupakan kerja siswa dan orang tuanya.
Banyak kisah yang terungkap dari testimoni saat bersama anaknya. Ini catatan
penting bagi pembelajaran berikutnya. Bukan hanya produknya, tetapi ulasan
singkat para ibu maupun bapak menjadi lembaran berharga. Fokus permasalahan
pembelajaran akan menjadi mudah.
Minimnya
waktu pembelajaran di kelas menjadi penyebab utama memanfaatkan teknologi. Ada
komunitas kelas dalam WhatsAap. Ini
bimbingan di luar kelas melalui diskusi virtual.
Penggunaan handphone bagi siswa tidak bisa terelakkan. Saya hanya membantu
untuk memanfaatkannya secara bijak. Hal itu berdasarkan hasil survei awal
pembelajaran. Berbagai sumber belajar bisa di peroleh dari genggaman. Sebahagian
bisa dilakukan melalui belajar mandiri.
Tidak
hanya sebatas literasi digital. Ponsel dapat pula digunakan untuk membuat
rancangan desain produk maupun promosi. Teknik dasar edit gambar serta disain
pemasaran bisa dilakukan melalui program Picart. Memanfaatkan media sosial
dalam berwirausaha juga dilakukan. Ini kegiatan terbimbing, jadi semua ada
aturan yang disepakati. Jejaring sosial ini mengundang guru, orang tua,
keluarga dan masyarakat sekitar siswa untuk berperan serta. Mereka dapat
bertindak sebagai pengawas di dunia maya. Grup ini bernama Prase Suhardin Shop.
Mengetik
laporan singkat maupun menjawab pertanyaan angket bisa dilakukan melalui handphone. Inilah cara yang diajarkan
untuk melakukan hal praktis namun tetap efektif. Beberapa program bawaan windows maupun internet harus
dipelajari. Untuk diketahui, kegiatan ini diterapkan pada siswa kelas IX.
Terdapat
proyek wirausaha internal. Kegiatan penjulan produk dalam lingkungan sekolah
dilakukan. “Buka lapak” istilahnya. Sebagian pemesanan melalui kegiatan on line. Hal kecil ini telah menuntun
siswa untuk belajar menata laporan keuangan. Mereka dapat mempelajari excel dalam menghitung laba ataupun
rugi. Berdagang berarti mengejar untung. Mereka harus berkompetisi secara
sehat. Beberapa produk memiliki keunikan. Ada yang berkesempatan untuk
mengikuti pameran besar.
Banyak
kolaborasi yang terjadi. Bukan hanya antar manusia, tetapi juga berkaitan
dengan alam. Tidak sebatas kerajinan bermotif lokal dan miniatur rumah adat
berinstalasi listrik. Beberapa makanan khas daerah mulai dikenalkan kembali.
Ayam tawoloho dan perende dibuat sendiri oleh siswa. Ada yang telah mengaploudnya melalui youtube.
Setiap
orang memiliki kisah. Inilah yang dirajut dalam komunitas menulis siswa.
Walaupun setiap angkatan memiliki istilah sendiri, namun saya menyebutnya
Komunits Menulis Seventeen. Sebenarnya nama itu muncul semenjak buletin sekolah
digagas. Media itu mengambil nama maupun pembina kegiatan yang sama.
Pembimbingannya sarat dengan pemanfaatan teknologi.
Kini
telah melewati tiga generasi. Lima buah buku antologi telah diterbitkan. Cara
menulis siswa semakin berubah. Maklumlah, saya bukan guru Bahasa Indonesia.
Kadang kala harus bertanya keorang berlimu, baru bisa menjawab pertanyaan
mereka. Saya menempuh cara itu sambil belajar menulis.
Bukunya
menjadi dagangan. Tidak sedikit uang yang dihasilkan. Banyak yang bisa
dilakukan. Mereka dapat membiayai praktek selanjutnya dari keuntungan
penjualan. Baju kaos untuk kelas pun menjadi lebih ringan untuk dibeli.
Warga
kota memiliki kesibukan yang tinggi. Itulah mengapa keluarga diajak dalam
pembelajaran. Berpartisipasi dalam kebersamaan. Menjadi pengawas serta penilai.
Walapun caranya harus melalui anaknya sendiri. Saya hanya menyiapkan lembar
observasinya. Tanggapan negative memang ada, namun sikap positifnya jauh lebih
banyak. Pada akhirnya semunya bisa memakluminya. “Belajar itu harus sesuai
jamannya,” itulah kesimpulannya.
Inilah
cara yang saya tempuh dalam mengejar berkah. Walaupun kadang tersandung jaman.
Tetapi belajar bukan hanya pada yang lebih dewasa. Saya tetap membuka diri,
karena masa kini merupakan dunia mereka. saya hanya berlari kecil agar tidak
jauh tertinggal. Berupaya agar pesan panca indra bisa tersampaikan. Menjaga
agar kompas dan peta dapat berfungsi.
Saya
hanya berusaha menjadi pengamat setia, selebihnya mereka yang menjalankannya. Walaupun
menurut orang, itu kecil dan sederhana. Saya hanya ingin menuntun mereka,
kearah jalan yang bercahaya.
Kendari, 27 Februari
2020
Suhardin (Guru SMPN
17 Kendari) – Sulawesi Tenggara
Labels:
Buletin,
Karyaku,
Kegiatanku
Langganan:
Komentar (Atom)
Kisah Sang Juri di Wilayah Tambang
Merujuk Surat Keputusan Pengurus PGRI Provinsi Sultra Nomor : 100.a/KEP/PROV/XXII/2022 tentang penetapan dewan juri lomba video pembelajaran...
-
Contoh Lembar Kerja Siswa Nama : …………………………………….Kelas : ……………Hari/Tanggal : ………………… Tujuan : Mengidentifikasi bahan olahan siap saji dari ...
-
Kegiatan Sumatif ini dilakukan untuk kelas VIII.1 - VIII.4 Serta VIII.7 dan VIII.8 Sebelum mengikuti kegiatan ini diharapkan anak-anak sek...
-
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA Materi 1 : Identifikasi Fungsi bagian organ pernapasan manusia Perhatikanlah gambar berikut Berdasarkan gambar...


