Rabu, 24 Maret 2021

PELATIHAN PEMBUATAN VLOG BAGI SISWA (Vloger Baru di Bumi Kartika)

 



Kepala Laboratorium Sains telah berpindah tangan secara mendadak minggu lalu. Tanpa pemberitahuan resmi, surat tugas langsung dikeluarkan. Kini keseharianku makin longgar. Bertugas sebagi guru biasa menjadikan banyak waktu tersisa. Itulah alasannya, mengapa aku menerima tawaran dari sekolah lain. Kepala SMP Kartika XX-6 Kendari menghubungiku melalui saluran telepon seluler.

 

“Apakah bapak punya waktu untuk kami?” Sapanya.

“Aku bisa mengusahakannya pak. Apa yang bisa saya bantu?” Jawabku.

“Sekolahku ingin mengadakan pelatihan pembuatan vlog bagi siswa. Apakah bapak bisa menjadi pemateri sekaligus pembimbingnya?”

“Dengan senang hati pak. Semoga mereka bisa mengikutinya.”

 

Seminggu kemudian, aku mulai menggeluti kegiatan tersebut. Menginjakan kaki kembali di sekolah ini, mengingatkan masa kelam dalam perjalanan karierku menjadi guru. Sekolah ini menjadi sarana penyelamat dari Sang Kuasa. Rumah kedua ini telah adalah berkah untuk tetap menerima tunjangan sebagai guru sejati. Itulah sebabnya aku harus membalas jasanya. Walau sepenggal ilmu yang dimiliki.

 

Aku mulai berkenalan dengan Nova, Nessa dan Dina. Mereka peserta dalam kegiatan pelatihan pembuatan vlog yang ditunjuk oleh sekolah. Namun kelihaian mereka dalam teknologi memupuskan makna seorang pemateri. Aku hanya bisa menutupi kekuranganku dengan berbagi pengalaman. Menjadi pemenang dalam kegiatan pembuatan video pendek tingkat nasional adalah modalnya.

 

Hal terberatnya hanya dalam penguasaan diri di depan kamera. Rupanya canggung dan grogi menjadi musuh terbesarnya. Suasana yang sama saat aku memulai belajar membuat video. Pengambilan gambar yang berulang dan diskusi menjadi dominan. Akupun mengatakan bahwa membuat vlog hampir sama dengan menyusun cerita. Hanya saja dalam rancangannya ada limit waktu yang harus ditetapkan. Hal itu untuk mendukung latar atau tempat, bahasa tubuh, dialog dan pesan yang harus disampaikan. Jika ada properti yang digunakan harus sesuai dengan tema yang dipilih. Begitulah sepenggal pengalaman dalam suasana berbagi.

 

Mereka memang mahir teknologi, namun cara mengambil gambar yang sesuai dan mengatur pencahayaan serta editing video yang baik menjadi bagianku. Lambat laun merekapun menjadi lebih lincah dari pemikiranku. Bahkan mulai berani memberi masukan diluar nalar yang aku miliki. Sungguh kejam, posisiku mulai tergantikan. Tetapi tetap disyukuri, karena banyak hal yang menjadi pelajaran baru. Maklumlah, dunia mereka berbeda denganku. Jika semasa mereka hanya mengenal bermain gasing dan cuke, ketiganya sudah bermain game on line dengan mudah.

 

Seminggu berlalu, video vlog mereka akhirnya kelar. Tanggapan mulai bermunculan dengan hasil kerja ketiganya.

 

“Wah bagus.” Kata Kepala Sekolah.

“Iya. Ini layak untuk dipublikasikan di yuotube atau instagram. Hanya ada video yang masih harus menurunkan volume musik latarnya.” Sambung seorang ibu pengurus yayasan.

 

Demikian juga dengan rekan-rekan guru yang lain. Meminta komentarnya untuk mengetahui kepuasan penonton terhadap video vlog yang telah dihasilkan.

“Bagus pak.” Kata ibu guru pembina kesiswaan.

“Kalau aku belum bisa buat seperti ini.” Sambung yang lainnya.

“Anak-anak kita rupanya punya potensi ya.” Guru yang lainnya menambahkan.

 

Ungkapan itu sangat bermakna. Penilaian yang membuatku berlega hati. Rupanya bisa membawa manfaat bagi orang lain. Semoga ini bisa menjadi ladah ibadah buatku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERDIFERENSIASI DI UJUNG TELUK

  Usai paparan materi, baru diri tersadar akan sebuah hal. Sekolah ini pernah menjadi jalan dalam menyusun skripsi dua puluh lima tahun lalu...