Rabu, 03 Juli 2019

BULETIN SEVENTEEN : SOLUSI GURU JAMAN NEW


SOLUSI GURU JAMAN NEW
(ANTARA KARAKTER, KARIR DAN ZONASI)

Sebuah Refleksi Paparan Kegiatan Pembukaan Seminar Nasional Guru Berprestasi Tahun 2019

     Guru sebagai profesi yang tidak bisa tergantikan oleh perkembangan jaman harus mampu mengarahkan pembelajaran sesuai kondisi dan tuntutan keadaan. Pekerjaan ini harus mampu merancang desain proses maupun produk peserta didik yang berdaya saing. Tujuan tersebut membuat guru harus terus belajar agar mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif.

      Pendidik memegang peran penting dalam era teknologi yang makin berkembang. Tidak hanya mengajarkan pemanfaatan teknologi saja, akan tetapi harus mampu pula mendidik dengan menanamkan nilai karakter yang baik. Akademik boleh saja meningkat namun peserta didik harus memiliki kemampuan menerapkan nilai budaya positif dalam hidupnya. Manusia yang religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan bertintegritas menjadi dambaan kualitas generasi emas di masa mendatang. Pendidkan karekter menjadi jalan keluarnya.

     Inilah tantangan besar dunia pendidikan saat ini. Tidak hanya meningkatkan kualitas akademik tetapi juga membangun manusia yang berkarakter. Banyak hal negatif yang terjadi saat ini akibat merosotnya nilai-nilai karakter. Tidak hanya ahlak dan moral anak menjadi sorotan, namun beberapa tindak tanduk guru kadang terseret dalam rana etika dan pidana.

    Regenerasi guru kini menjadi persoalan baru. Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, menjadikan guru harus bekerja keras. Jaman yang berbeda tentunya pengetahuan harus terus diperbanyak. Guru jaman ular tangga dan pnsel pintar tentu berbeda situasi mengajarnya. Namun semua harus berubah. Caranya dengan belajar. Olehnya itu, perbedaan zaman ini dapat disiasati dengan pengembangan keprofesionalan melalui zonasi. Sehingga seorang pendidik dapat menjadi penghubung dalam mengantarkan ilmu pengetahuan melalui cara mereka dalam belajar dan mengajar. Pelatihan yang berpusat sentra nasional atau propinsi segera diregulasi kedalam kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Kegiatannya terfokus pada penguatan muatan kompetensi pembelajaran.

     Setiap hasil usaha tentu memiliki keuntungan maupun kerugian. Sisi negatif yang melemahkan dalam pencapaian kompetensi peserta didik akan menjadi arah kegiatan pelatihan. Nilai ujian nasional akan menjadi patokan untuk menutup celah kekurangan setiap sekolah. Bergabung dalam sebuah perkumpulan di kawasan terdekat akan efektif untuk berbagi pengalaman sesama pendidik. Teknik 5 in dan 3 on dipesiapkan. Aktifitas refleksi (pembelajaran dan diri), penyiapan perangkat, pengajaran, revisi dan penerapan pembelajaran terbaik akan mendominasi penguatan di MGMP nantinya.

    Disamping kurikulum yang diterapkan, sarana dan prasarana juga memagang peran dalam ketercapaian program ini. Namun inovasi dan keriatifitas guru harus menjadi jalan keluar. Semuannya terpulang pada sistem pengelolaan pendidikan di sekolah. Kualitas manejerial ini tidak lepas dari kemampuan kinerja Kepala Sekolah dan pengawasnya. Menaikkan tingkat kesejahteraan mereka menjadi alternatif, namun posisi ini harus dipegang oleh pendidik yang berkualitas. Artinya hanya guru terbaik yang bisa menduduki kedua posisi tersebut.

     Pemegang kendali utama pencapaian program tersebut adalah guru, sosok pengajar di ruang kelas. Melatih guru sesuai tuntutan jaman memang tidak mudah. Pelatihnya harus pula guru terbaik. Penyiapan guru inti menjadi langkah awal yang akan dilakukan pemerintah. Jika jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki 10 mata pelajaran untuk 458 kabupaten/Kota maka akan ada 4580 zona. Kurang lebih 900.000 guru akan menjadi sasaran penerapannya. Jumlah efektifitas pelatihannya adalah 82 jam. Inilah cakaran matematiknya secara kasar di atas kertas.

    Kondisi itu membuat distribusi guru akan terjadi perubahan. Artinya guru berkualitas akan terdistribusi secara merata pada zona yang sama. Demikian pula halnya dengan tingkat kompetensi dan akademiknya. Semua itu akan menghapus istilah sekolah favorit. Jadi bukan hanya pada pemeratan siswa namun kualitas pengajar akan disamaratakan.  Bagaimana halnya dengan guru bimbingan? Sebagai katalisator, seorang guru harus mampu mengarahkan bakat dan minat siswa. Walaupun ini tugas semua guru, namun BK memiliki peran yang besar. Jadi tidak hanya menangani peserta didik yang bermasalah, siswa berpotensi juga menjadi beban tugasnya untuk mengarahkannya.

    Banyak hal yang bisa diperoleh guru dalam program in-on MGMP sistim zona. Pengetahuan pedagogik dapat ditempa untuk peningkatan profesionalismenya. Bentuk bast practice dapat dihasilkan untuk peningkatan kariernya. Boleh jadi, sebuah penilitian pembelajaran akan lahir dari cara memecahkan masalah pembelajarannya. Tentunya sangat bergantung pada keinginan dan kemampuan guru dalam berinovasi.

    Sistim yang akan diterapkan akan mengarahkan tugas guru yang lebih kompleks namun sederhana. Tidak hanya mampu mengajar dan membimbing, akan tetapi seorang guru harus mampu sebagai fasilitator. Tujuannya untuk mengarahkan anak didik untuk berpikir kritis dan kreatif. Pada akhirnya bukan hanya pendidik saja yang mampu mengembangkan otak kanan dan kiri. Para siswa dalam belajar akan mampu pula menyeimbangkan antara kepribadian dan akademiknya.

1 komentar:

  1. Lanjutkan, ide gagasan mulia tak akan sampai pada titik pemberhentian, ....!!!

    BalasHapus

KEGIATAN P5 BERTEMA PENGELOLAAN SAMPAH DI SMPN 17 KENDARI

  Membaca buletin selengkapnya buka link berikut https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/buletinseventeen2023-2024/halaman-muka/edisi-a...