Materi 1 : Identifikasi Fungsi bagian organ pernapasan manusia
Perhatikanlah gambar berikut
Berdasarkan gambar diatas identifikasilah keunikan setiap bagian melalui tabel berikut. Bacalah buku siswa pada halaman 66-67. Apakah yang kamu ketahui tentang bagian-bagian organ perbapasan berikut.
No
Nama Organ Pernapasan
Fungsi dari ….
1
Hidung
Rambut Hidung ………………………………
Mucus/lendir hidung……………………….
2
Laring
Pita suara ……………………………………..
Epiglotis ………………………………………….
Silia ………………………………………………..
3
Paru-paru
Broncus ……………………………………………
Bronceulus ……………………………………….
Alveouli ……………………………………………
Materi 2 : Perbedaan fase inspirasi dan ekspirasi pada manusia
Bacalah buku siswa halaman 68 tentang mekanisme bernapas manusia. Perhatikanlah gambar berikut
Tulsikan kembali di buku kalian tentang pernyataan perbedaan antara fese inspirasi dan ekspirasi pernapasan manusia berikut dengan melengkapi kalimat yang diberikan tanda titik-titik dengan kata atau pernyataan yang tepat.
Fese Inspirasi
Ketika kalian menarik napas, otot yang ada di tulang rusuk kalian akan ……………… sehingga tulang rusuk akan ………………, diafragma pun berkontraksi, yang semula melengkung menjadi …………... Kontraksi ini menyebabkan rongga dada kalian ……………….., volume paru-paru pun ……………, tekanan udara di paru-paru ……………., dan udara pun masuk.
Fase Ekspirasi
Ketika kalian menghembuskan napas, otot-otot yang ada di tulang rusuk kalian …………………………….., diafragma pun dalam keadaan ……………….., hal itu menyebabkan rongga dada kalian menjadi …………….., volume udara di paru-paru pun ………………., sementara tekanan udara di paru-paru ……………….., udara siap untuk dikeluarkan.
"Bunga Kado Kemerdekaan". Cerita ini akan menggabungkan proses pembuatan kerajinanmu dengan pesan penting tentang menjaga lingkungan
Pada bulan Agustus, semangat kemerdekaan terasa di setiap sudut negeri. Merah putih berkibar di mana-mana, melambangkan perjuangan para pahlawan. Di tengah semangat itu, dua sahabat bernama Muh Haidar Nur Raihan dan Muh Irfan Aditya memiliki ide sederhana namun bermakna: membuat kerajinan bunga merah putih dari bahan yang ada di sekitar mereka.
Mereka menyebut karya ini “Bunga Kado Kemerdekaan”, sebuah simbol kecintaan pada tanah air sekaligus wujud kepedulian terhadap lingkungan. Alih-alih membeli bunga plastik yang banyak beredar, mereka memutuskan untuk memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan dan bisa didaur ulang, seperti tempat kok bekas, kertas HVS, pita, philox, gabus, kantong plastik bekas, lidi, dan kapas. Dengan alat sederhana seperti pisau, mistar, gunting, pulpen, dan lem, mereka mulai berkreasi.
Proses Pembuatan Pot
Mula-mula, mereka memotong tempat kok sepanjang 11 cm. Lalu, kertas HVS dipotong dengan lebar 3 cm dan panjang berbeda-beda (11, 12, 13, 14, 15 cm). Kertas itu digulung, lalu ditempel melingkar pada tempat kok dengan pola ukuran bertahap: 11 cm – 12 cm – 13 cm – 14 cm – 15 cm – 14 cm – 13 cm – 12 cm – 11 cm, hingga seluruh bagian tertutup. Setelah itu, bagian bawah pot dilapisi philox hingga sepertiga, dibiarkan kering, lalu diberi hiasan pita sebagai pemisah. Bagian dalam pot diisi dengan gabus sebagai penyangga bunga.
Proses Pembuatan Bunga
Untuk bunganya, mereka menggunakan kantong plastik merah dan hijau yang biasanya hanya sekali pakai. Kantong merah dipotong memanjang sekitar 20 cm, sementara sebagian lain dipotong berbentuk kotak kecil. Potongan kotak merah diisi kapas, lalu ditempelkan pada ujung lidi sebagai kelopak bunga. Kantong hijau digunakan untuk membungkus lidi agar tampak seperti batang bunga. Setelah dilem dengan rapi, bunga-bunga itu ditancapkan ke gabus dalam pot. Hasilnya, pot kecil berisi bunga merah putih yang indah, sederhana, dan penuh makna.
Makna Berkelanjutan
Lewat karya ini, Haidar dan Irfan belajar bahwa kreativitas tidak harus mahal. Barang-barang bekas pun bisa disulap menjadi karya seni yang indah. Mereka sadar, jika banyak orang mulai berkreasi dengan memanfaatkan kembali bahan sederhana, maka sampah plastik bisa berkurang dan lingkungan menjadi lebih lestari.
“Bunga Kado Kemerdekaan ini bukan hanya untuk memperingati 17 Agustus,” kata Haidar sambil tersenyum.
“Ya, tapi juga sebagai pengingat bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan cara melestarikan bumi kita,” tambah Irfan.
Dengan bangga, kami meletakkan bunga itu di ruang kelas, sebagai tanda bahwa semangat kemerdekaan bisa diwujudkan tidak hanya dengan bendera, tetapi juga lewat karya ramah lingkungan.
Di tengah banyaknya limbah rumah tangga yang sering terbuang sia-sia, lahirlah sebuah ide sederhana namun penuh makna: mengubah barang bekas menjadi sesuatu yang indah dan bermanfaat. Dari ide inilah tercipta sebuah karya yang diberi nama “Bunga DIY Flower”.
Karya ini bukan sekadar hiasan bunga biasa. Ia lahir dari semangat untuk menjaga lingkungan dan mengajarkan bahwa keindahan bisa diciptakan dari hal-hal sederhana. Dengan memanfaatkan botol bekas, kertas origami, kain flanel, kawat, dan batu, terciptalah sebuah karya seni yang ramah lingkungan.
Proses pembuatannya dimulai dengan mengambil botol bekas, lalu dipotong bagian bawahnya untuk dijadikan pot bunga. Batang bunga dibuat dari kawat yang dibentuk menyerupai ranting, kemudian dilapisi dengan kain flanel agar tampak rapi. Bunga indah dirangkai dari lipatan kertas origami, lalu ditempelkan di batang yang sudah siap. Daun dari kain flanel menambah kesan alami, sementara batu kecil diletakkan dalam pot untuk memperkuat pijakan bunga.
Setiap langkah sederhana itu menyimpan pesan: bahwa barang yang dianggap sampah masih bisa memiliki kehidupan kedua bila kita mau berkreasi. “Bunga DIY Flower” mengajarkan bahwa gaya hidup berkelanjutan bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengurangi sampah plastik dengan cara mendaur ulangnya menjadi karya seni.
Karya ini tidak hanya mempercantik ruangan, tetapi juga membawa pesan kebaikan bagi lingkungan. Melalui “Bunga DIY Flower”, Dwi Satria Wiguna dan Jumadil ingin menginspirasi banyak orang bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan bisa berjalan seiring.
Dari sampah lahir keindahan, dari sederhana lahir inspirasi.
Judul: "Kreativitas dari Hati: Vas Bunga dari Stik dan Tutup Botol"
Oleh Kelompok: Selvia & Wahyudi
Nama Produk: Vas Bunga dari Stik dan Tutup Botol
Di sebuah sudut kecil ruang kelas, dua siswa bernama Selvia dan Wahyudi duduk berhadapan, dikelilingi oleh barang-barang yang sering dianggap sampah: tutup botol bekas, stik es krim, kertas kado lusuh, dan bungkusan obat sirup yang tak terpakai. Namun bagi mereka, itu bukan sampah—itu adalah awal dari sebuah karya seni.
Dengan semangat dan imajinasi yang tinggi, mereka memulai proyek sederhana namun bermakna: membuat vas bunga dari stik dan tutup botol. Bukan hanya tugas sekolah, ini adalah bentuk nyata dari kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Mereka mulai dengan menyiapkan alat dan bahan: gunting, lem tembak, stik es krim, clay, tutup botol, pita-pita bekas, kertas kado, dan bungkusan obat sirup. Meski alat seadanya, semangat mereka penuh.
Langkah demi langkah mereka jalani:
Mereka menyusun tutup botol dan stik es krim, lalu menempelkannya dengan lem tembak untuk membentuk bunga sederhana.
Kertas kado dipotong memanjang, kemudian dililit hingga membentuk batang yang kuat dan menarik.
Dengan hati-hati, mereka menyusun batang dan bunga menjadi satu kesatuan yang serasi.
Vas pun dibentuk dari bungkusan obat sirup, lalu dihias dengan clay agar tampak lebih indah dan kokoh.
Terakhir, bunga buatan mereka dimasukkan ke dalam vas, menjadikannya tampak seperti bunga sungguhan.
Saat proyek selesai, mereka menatap hasil karya mereka—sebuah vas bunga yang cantik, unik, dan sepenuhnya hasil daur ulang. Karya itu bukan hanya cantik secara visual, tapi juga menyampaikan pesan penting: bahwa barang bekas bisa menjadi sesuatu yang berharga jika disentuh dengan kreativitas dan kerja sama.
Vas bunga itu bukan hanya simbol dari kerajinan tangan, tapi juga simbol dari perjuangan dua anak muda yang ingin membuat perubahan kecil lewat tangan mereka sendiri. Dari sampah menjadi karya. Dari sisa menjadi inspirasi.Kini, karya mereka dipajang dengan bangga, mengingatkan semua orang bahwa keindahan bisa datang dari tempat yang tak terduga—asal ada niat, semangat, dan kerja sama.
Asyira Dian Rianti dan Putri Pujianingsih Nama produk: Bunga dari Tisu
Di sebuah sore yang cerah, Asira Dian Riayanti dan Putri Pujia Ningsih duduk di teras rumah. Mereka sedang berbincang tentang cara menjaga lingkungan sekaligus berkreasi.
“Asira, coba lihat sekeliling kita. Banyak sekali botol Aqua bekas yang terbuang begitu saja,” kata Putri sambil menunjuk botol plastik di halaman.
Asira mengangguk, “Sayang sekali ya, padahal kalau kita kreatif, barang-barang itu bisa jadi sesuatu yang indah.”
Akhirnya, mereka berdua mendapatkan ide: membuat bunga cantik dari tisu dengan memanfaatkan botol bekas sebagai vasnya.Dengan penuh semangat, mereka menyiapkan alat dan bahan sederhana: lem tembak, gunting, tisu, lidi, glitter, dan tentu saja botol Aqua bekas.
Pertama, mereka mencuci botol bekas hingga bersih, lalu mengelapnya sampai kering. Setelah itu, mereka memotong tisu menjadi bentuk lingkaran, menempelkannya pada lidi menggunakan lem tembak, hingga terbentuk kelopak bunga yang indah.
Botol bekas yang tadinya terlihat tak berguna, kini berubah menjadi vas sederhana. Mereka mengisi bagian dalamnya dengan hiasan batu berwarna, lalu menancapkan bunga tisu ke dalamnya. Untuk sentuhan akhir, mereka menaburkan glitter, membuat bunga itu berkilau seperti emas di bawah cahaya matahari.Saat karya mereka selesai, Asira tersenyum bangga. “Lihat, Putri! Dari barang bekas yang dianggap sampah, kita bisa membuat hiasan yang cantik.”
Putri mengangguk setuju, “Benar, Asira. Ini bukti kalau dengan kreativitas, sesuatu yang kecil bisa memberi kebahagiaan. Selain indah, kita juga ikut menjaga bumi dari sampah plastik.”Sejak hari itu, Asira dan Putri percaya bahwa setiap tangan yang mau berkreasi bisa menciptakan keindahan. Bunga tisu buatan mereka bukan hanya sekadar hiasan, tapi juga simbol kepedulian, kreativitas, dan harapan.
Pesan Moral:
Dari benda sederhana yang sering dianggap tidak berguna, kita bisa menciptakan karya indah. Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan akan membuat hidup lebih bermakna.
Proyek daur ulang kali ini terasa berbeda. Aku, Dira, bersama empat sahabatku, Tiara, Renata, Qathrun, dan Jesika, mendapat tugas dari Ibu Suratmin untuk membuat sebuah karya dari limbah. Awalnya, kami bingung. Sampah apa yang bisa diubah menjadi sesuatu yang indah? Setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami sepakat untuk membuat sebuah cermin hias dari bahan-bahan bekas.
Proyek ini bukan hanya tentang membuat barang baru, tapi juga tentang belajar menghargai lingkungan. Kami sadar, sampah sering kali menjadi masalah besar, tidak hanya bagi manusia tapi juga untuk makhluk hidup lain. Lewat proyek ini, kami ingin membuktikan bahwa sampah yang terabaikan pun bisa memiliki nilai.
Bahan-bahan yang kami kumpulkan sederhana: kardus bekas, tutup botol, botol plastik bekas, potongan kaca cermin, lem tembak, cat akrilik, dan gunting. Semuanya adalah benda-benda yang sering kali berakhir di tempat sampah.
Setiap anggota tim memiliki perannya masing-masing. Proses awal, kami harus menyepakati desain. Setelah itu, Tiara, dengan bakat melukisnya, mulai mengecat produk dengan berbagai warna. Hasilnya sangat indah. Sementara itu, Renata dan Qathrun bertugas merekatkan setiap bagian dengan teliti menggunakan lem tembak. Dira, dengan sentuhan estetiknya, menambahkan kapas untuk mempercantik bingkai cermin. Terakhir, Jesika yang mengeringkan produk di bawah sinar matahari dan mengaturnya.
Semua proses kami lakukan dengan hati-hati. Ibu Suratmin, guru pendamping kami, selalu mengawasi dan memberikan saran. Beliau menyarankan agar kami lebih teliti saat merekatkan elemen-elemen kecil agar cermin hias kami kuat dan tahan lama. Masukan dari beliau sangat membantu.
Proyek ini membuat kami belajar banyak hal, salah satunya adalah cara bekerja sama. Setiap tantangan kami selesaikan bersama, mulai dari merancang desain hingga proses akhir. Hasilnya, kami berhasil mengubah tumpukan sampah menjadi sebuah karya yang unik dan berguna.
Di ruang kelas kreasi bersama Ibu Suratmin, kami semua tersenyum bangga melihat cermin hias buatan kami. Meskipun terbuat dari barang bekas, karya ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan kerja sama bisa mengubah hal-hal yang tak berguna menjadi sesuatu yang berharga. Kami berharap, cerita kami ini bisa menginspirasi teman-teman lain untuk mulai peduli dengan lingkungan dan mengolah sampah menjadi berkah.