Senin pagi itu, langit Kendari tidak tampak cerah, seolah ikut merayakan hari yang sakral. Di lapangan SMPN 17, para anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) berdiri tegap, siap mengemban tugas mulia. Di balik kesuksesan upacara Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia ini, terbentang kisah penuh semangat dan dedikasi kebangsaan yang kuat.
Perjalanan mereka dimulai sebulan sebelumnya. Seleksi ketat digelar untuk menemukan siswa-siswi terbaik. Bukan hanya mereka yang mahir baris-berbaris atau berprestasi akademis, tetapi juga mereka yang memiliki mental dan jiwa juang yang kuat. Dari puluhan pendaftar, terpilihlah 25 anggota Pasukan Delapan dan Pasukan Tujuh Belas. Uniknya, sebagian besar dari mereka berasal dari kelas tujuh dan delapan, mencerminkan komitmen sekolah untuk meregenerasi bibit-bibit unggul.
Masa latihan menjadi ujian sesungguhnya. Di bawah bimbingan para alumni yang berdedikasi tinggi, mereka berlatih tanpa henti. Setiap formasi, setiap gerakan, harus presisi dan harmonis. Tantangan terberat adalah memilih sosok pengibar dan pembawa baki bendera. Posisi itu terus berganti, menguji mental dan kemampuan setiap anggota, baik untuk upacara penaikan maupun penurunan. Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap teguran dari pelatih, adalah bagian dari proses pembentukan mental baja yang diperlukan untuk mengemban amanah besar ini.
Tepat pukul sembilan pagi, setelah penantian yang panjang karena menunggu kehadiran Kepala Sekolah, upacara penaikan bendera dimulai. Lapangan yang hening menjadi saksi bisu gerakan-gerakan terpadu yang telah mereka latih selama berminggu-minggu. Pasukan delapan dan tujuh belas melangkah dengan pasti, menaiki tangga kehormatan. Pembawa baki, dengan keanggunan dan fokus penuh, menyerahkan Sang Merah Putih. Bendera perlahan ditarik, melambai dengan gagah di tiang tertinggi, diiringi lagu Indonesia Raya yang menggema. Suasana haru dan khidmat menyelimuti seluruh warga sekolah. Kesuksesan ini adalah buah dari latihan yang gigih dan pantang menyerah.
Setelah upacara selesai, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah ceria mereka. Momen istimewa itu terasa semakin lengkap dengan kehadiran orang tua. “Ini momen langka, harus diabadikan dalam foto dan video.” Ucap Lia dengan mata berbinar saat sesi foto bersama. Namun, tidak semua rasa bahagia terpancar. Bunga, seorang anggota yang menolak disebut nama aslinya, duduk terdiam. Ia tak kuasa membendung air mata karena kedua orang tuanya tak bisa hadir. Baginya, penampilan luar biasa yang ia berikan seakan sia-sia. Menyaksikan kesedihan Bunga, Ibu Amin, wali kelas delapan-tiga, mengambil langkah tak terduga. Ia mengundang para pelatih, teman-teman dekat, bahkan guru-guru dan Bapak Kepala Sekolah untuk berfoto bersama Bunga. Foto-foto itu tak hanya mengabadikan senyum Bunga yang akhirnya merekah kembali, tetapi juga merekam kehangatan dan kekeluargaan yang begitu kuat di sekolah kita.
Cerita sore hari tak kalah mengesankan. Setelah hujan deras, rintik-rintik hujan tak menghentikan langkah mereka untuk kembali mengemban tugas. Dengan semangat yang sama, di bawah pimpinan Pak Halisi, guru senior kita, mereka melangsungkan upacara penurunan bendera. Hujan tidak menyurutkan semangat Paskibra. Walau jumlah penonton tidak seramai pagi hari, tugas itu tetap dijalankan dengan sempurna. Viola, pembawa baki sore itu, merasa bersyukur bisa kembali mengemban tugas ini untuk kedua kalinya.
Tahun ini, perayaan ulang tahun kemerdekaan terasa lebih istimewa. Upacara Hari Ulang Tahun ke-80 di SMPN 17 bukan sekadar seremoni. Ini adalah kisah tentang perjuangan, kerja keras, persahabatan, dan semangat pantang menyerah dari para pahlawan muda kita. Mereka membuktikan bahwa dengan dedikasi dan kebersamaan, segala tantangan dapat diatasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar